Free Download Lagu ST 12 Kebesaranmu MP3 Lirik Chord Album Video Gratis
Posted using ShareThis
Kamis, 22 Oktober 2009
HöW Tö TäKê A CÖURSè IÑ PâRè..
Menanggapi beberapa message yg masuk mengenai tulisan saya di blog pribadi saya ini tentang Pare, sebagian besar menanyakan bagaimana langkah awal kita dan hal apa yang perlu kita perhatikan sebelum m'ngambil kursus di sana. Saya coba untuk menguraikannya. Sengaja saya posting di FB terlebih dahulu, agar mudah diakses oleh tèman2 ybs n alumni2 serta para tentor. Ok, chek it out!
Berikut adalah hal-hal yang perlu di perhatikan, sebelum mengambil kursus di Pare
* KUMPULKAN INFORMASI
Mungkin ada teman-teman kita yg pernah kursus disana. Kita bisa korek-korek info dari dia. Kita tanya tentang peñgalaman-pengalaman serta program apa yang dia ambil. Semakin banyak info yang kita dpt,smakin baguz. Tapi ingat, jangan m'nelan mentah2 informasi yg kita terima, karena terkadang bisa aja bersifat subjektif. Berusahalah untuk tetap objektif!
* SURVEY
Kedengarannya sepele, tapi penting. So gak usah 'eman' ngeluarin ongkos PP untuk survey. Justru survey adalah kesempatan bagi kita untuk lebih mengenal lingkungan, suasana, lokasi, pilihan2 kursus, boarding house, dll karena menyangkut hajat hidup kita slama di Pare nanti.
* PILIH PROGRAM SESUAI KEBUTUHAN
Di Pare ada beranéka pilihan program kursus. Ada bahasa Inggris, Jepang, Korea, Mandarin, kursus Komputer, Sempoa, dll. Memang c yg terkenal adalah Kursus bahasa Inggris (dengan pilihan program: Speaking, Grammar, TOEFL, dll) karena memang pelopor utama kursusan d Pare adalah BEC. Bagi yang pengen tau sejarahnya, monggo.. Intip aja blog saia (hu..hu..promosi lagi! ^_^). Saat disana, rasanya pengen banget ngambil banyak program. Apalagi harga masing2 program & biaya hidup sangat terjangkau. Tapi kita juga harus m'ngukur kemampuan. Kalo tidak kuat untuk ambil program banyak-banyak, ya tidak usah dipaksakan. Nanti badan dan otak bisa keriting. Lebih baik ambil program sesuai dg kebutuhan saja, sisanya bisa diambil pada bulan berikutnya atau lain waktu. Seperti itu lebih efektif. Toh Pare ga akan lari kemana... Teteup di Kediri - Jawa Timur.
* PERHATIKAN KUALITAS
Semakin lama, semakin banyak kursusan baru. Perhatikan kualitas masing-masing kursusan, dan program apa yg paling bagus dari tiap kursusan.
* BOARDING HOUSE YANG NYAMAN & STRATEGIS
Ada 2 pilihan boarding house disana: kosan biasa dan camp. Bagi yang pengen intens menggunakan bahasa Inggris, camp bisa jadi pilihan yang tepat karena merupakan English Area. Selain itu, usahakan memilih lokasi boarding house yg letaknya strategis. Mengingat jarak antara 1 kursusan dg kursusan yg lain tdk dekat.
* KRING-KRING GOES..GOES..
Seperti yang sudah saya sebut diatas,bahwa jarak kursusan 1 dengan lainnya tidak dekat. Bagi teman-teman yang tidak bisa bawa motor ke Pare, tidak usah khawatir. Karena disana banyak disewakan sepeda onthel. Asyik juga sepedaan sambil menikmati pemandangan desa yang masih ijo-ijo.
* WASPADALAH... WASPADALAH..!
Namanya hidup rame-rame, waspadalah terhadap barang masing-masing. Jangan suka taruh dompet n hape sembarangan. Kalo parkir motor or sepeda mending dikunci gembok. Bahkan saat parkir sendal, kalo perlu
di Alarm (hoho... Emang bisa?!?) Mengingat banyak kejadian kehilangan....
* JAGALAH HATI
Namanya hidup rame-rame, kita pasti sering b'interaksi dengan teman-teman. Jangan sampai terkena konflik. Dan bagi temen-temen yang Camp Putri & Camp Putra berdekatan... AWAS CINLOOOOK!! Hohoho... ^_^
Sementara ini saja info yg dapat sya berikan, bagi temen-temen yang punya info lain tentang Pare, silakan... Saya tunggu masukannya. ^_^V
Berikut adalah hal-hal yang perlu di perhatikan, sebelum mengambil kursus di Pare
* KUMPULKAN INFORMASI
Mungkin ada teman-teman kita yg pernah kursus disana. Kita bisa korek-korek info dari dia. Kita tanya tentang peñgalaman-pengalaman serta program apa yang dia ambil. Semakin banyak info yang kita dpt,smakin baguz. Tapi ingat, jangan m'nelan mentah2 informasi yg kita terima, karena terkadang bisa aja bersifat subjektif. Berusahalah untuk tetap objektif!
* SURVEY
Kedengarannya sepele, tapi penting. So gak usah 'eman' ngeluarin ongkos PP untuk survey. Justru survey adalah kesempatan bagi kita untuk lebih mengenal lingkungan, suasana, lokasi, pilihan2 kursus, boarding house, dll karena menyangkut hajat hidup kita slama di Pare nanti.
* PILIH PROGRAM SESUAI KEBUTUHAN
Di Pare ada beranéka pilihan program kursus. Ada bahasa Inggris, Jepang, Korea, Mandarin, kursus Komputer, Sempoa, dll. Memang c yg terkenal adalah Kursus bahasa Inggris (dengan pilihan program: Speaking, Grammar, TOEFL, dll) karena memang pelopor utama kursusan d Pare adalah BEC. Bagi yang pengen tau sejarahnya, monggo.. Intip aja blog saia (hu..hu..promosi lagi! ^_^). Saat disana, rasanya pengen banget ngambil banyak program. Apalagi harga masing2 program & biaya hidup sangat terjangkau. Tapi kita juga harus m'ngukur kemampuan. Kalo tidak kuat untuk ambil program banyak-banyak, ya tidak usah dipaksakan. Nanti badan dan otak bisa keriting. Lebih baik ambil program sesuai dg kebutuhan saja, sisanya bisa diambil pada bulan berikutnya atau lain waktu. Seperti itu lebih efektif. Toh Pare ga akan lari kemana... Teteup di Kediri - Jawa Timur.
* PERHATIKAN KUALITAS
Semakin lama, semakin banyak kursusan baru. Perhatikan kualitas masing-masing kursusan, dan program apa yg paling bagus dari tiap kursusan.
* BOARDING HOUSE YANG NYAMAN & STRATEGIS
Ada 2 pilihan boarding house disana: kosan biasa dan camp. Bagi yang pengen intens menggunakan bahasa Inggris, camp bisa jadi pilihan yang tepat karena merupakan English Area. Selain itu, usahakan memilih lokasi boarding house yg letaknya strategis. Mengingat jarak antara 1 kursusan dg kursusan yg lain tdk dekat.
* KRING-KRING GOES..GOES..
Seperti yang sudah saya sebut diatas,bahwa jarak kursusan 1 dengan lainnya tidak dekat. Bagi teman-teman yang tidak bisa bawa motor ke Pare, tidak usah khawatir. Karena disana banyak disewakan sepeda onthel. Asyik juga sepedaan sambil menikmati pemandangan desa yang masih ijo-ijo.
* WASPADALAH... WASPADALAH..!
Namanya hidup rame-rame, waspadalah terhadap barang masing-masing. Jangan suka taruh dompet n hape sembarangan. Kalo parkir motor or sepeda mending dikunci gembok. Bahkan saat parkir sendal, kalo perlu
di Alarm (hoho... Emang bisa?!?) Mengingat banyak kejadian kehilangan....
* JAGALAH HATI
Namanya hidup rame-rame, kita pasti sering b'interaksi dengan teman-teman. Jangan sampai terkena konflik. Dan bagi temen-temen yang Camp Putri & Camp Putra berdekatan... AWAS CINLOOOOK!! Hohoho... ^_^
Sementara ini saja info yg dapat sya berikan, bagi temen-temen yang punya info lain tentang Pare, silakan... Saya tunggu masukannya. ^_^V
Minggu, 03 Mei 2009
JIWA ENTERPRENEURSHIP, jangan pergi dariku!!!
Jum’at 1 Mei 2009, saya mendapat panggilan tes di sebuah perusahaan yang cukup bonafide di kota Surabaya. Saya mendapat giliran panggilan pukul 08.00, dan Alhamdulillah... saya sampai ditempat itu tepat waktu. Tes terbagi dalam 2 tahab. Tahab pertama, psikotes, dilanjutkan dengan tahab interview. Sesampai di ruangan HRD, ternyata peserta tes dibagi menjadi beberapa kelompok. Ketika saya memasuki ruang psikotes, Dari dalam ruangan keluarlah dua orang wanita yang telah selesai mengerjakan psikotes dan menuju ke ruangan manager HRD untuk melanjutkan ke tahab interview. Sayup-sayup saya dengar percakapan ketika mereka diinterview, ternyata mereka adalah lulusan S1 dari sebuah Universitas terkemuka di kota Surabaya. Orang pertama dari jurusan Komunikasi yang melamar sebagai Customer service, sedangnya yang lainnya adalah lulusan S1 Psikologi dari kampus yang sama dan melamar sebagai staff HRD. Wah... ini salah satu saingan saya rupanya. setelah berada di dalam ruang psikotes, masuklah seorang lelaki berjenggot dengan menggunakan kemeja putih cukup rapi dan berbadan tegap. Ehm.... Lelaki itu duduk disebelah saya, dan menyapa saya.
LYDSS
(red : Laki-laki Yang Duduk di Sebelah Saya) : ” Selamat Pagi mbak, mbaknya ikut tes juga?”
Saya : ” Iya Pak..( red: sebenernya pengen manggil ’mas’ tapi karena ngeliat jenggotnya, sepertinya lebih cocok dipanggil ’bapak’ hehehe...)
LYDSS : ” Mbak melamar sebagai apanya mbak?”
Saya : ” HRD Pak... bapak sebagai apa...?”
LYDSS : ” Waaah... kalau saya sih bagian yang kasar-kasar saja. Saya lulusan S3 sih : SD, SMP, SMA. Hehehe…. Kalau mbak lulusan apa?”
Saya : “S1 Psikologi, pak.”
LYDSS : ” S1? Kenapa mbak ngelamar kerjaan mbak?”
Hah? ”Kenapa ngelamar kerjaan?” Saya tersentak dan mengernyitkan kening. Kok pertanyaan bapak ini agak aneh ya...? ( menurut saya).
Saya : ” Ya... kalau tidak kerja, dari mana saya bisa membiayai hidup? Masa’ mau bergantung sama orang tua terus, pak..”
LYDSS : ” Bukan gitu mbak... maksud saya gini. Saya kan Cuma lulusan SMU. Nah... kalo mbak dan mbak-mabak yang tadi itu (menunjuk kedua orang pelamar yang berada diluar ruangan) kan lulusan S1. Sekarang saya lagi ngelamar kerjaan. Mbak juga. Nah... kenapa setelah saya lulus dari SMU dan mbak lulus dari S1 tidak ada perbedaan? Sama-sama mencari pekerjaan?”
Saya : ” Memang benar kita sama-sama mencari pekerjaan, pak... tapi posisi dan salarynya berbeda, bukan?”
LYDSS : ” Kalo masalah gaji, bisa saja saya mencari gaji yang setaraf dengan gaji mbak seiring dengan jam terbang yang semakin tinggi dan kenaikan jabatan. Nah... kalo sudah begitu. Apa bedanya hayo... antara seorang lulusan SMU dan S1 kalo ujung-ujungnya sama-sama menjadi pencari pekerjaan dan mendapatkan upah yang sama besarnya. Apa ga rugi mbak kuliah lama-lama?”
Haduuuuh... bapak ini semakin memojokkan saya dengan pertanyaan-pertanyaan anehnya. Tapi memang apa yang dia katakan itu benar. Dan sepertinya... saya sudah dapat menangkap arah pembicaraan bapak itu.
Saya : ” Oooo... maksud bapak : seorang lulusan S1 seharusnya lebih unggul dari lulusan SMU di dalam hal pekerjaan? Kalo seorang lulusan SMU mencari pekerjaan, seorang lulusan S1 seharusnya mencip...”
LYDSS : ” Yup, menciptakan pekerjaan!!!”
OMG!! (baca: Oh… My God!!) It’s very inspirating for me!! Kenapa ga kepikiran dari tadi. Berbicara mengenai menciptakan pekerjaan berarti kita berbicara tentang enterpreneurship alias kewirausahaaan.
Semasa kuliah dulu saya sering merealisasikan ” enterpreneurship” itu. Walaupun dimulai dari hal yang kecil-kecil saja. Seperti bisnis bunga hias, jualan jilbab, mengirim tulisan ke majalah, dll. (Red : selengkapnya ada di tulisan saya yang berjudul ” Mahasiswapun Bisa Cari Duit Sendiri”). Didukung dengan teman-teman pergaulan yang kebanyakan memiliki link dan minat yang sama saya dan lahan yang memungkinkan untuk buka usaha membuat peluang semakin terbuka lebar dan sayapun semakin semangat ’45. Tetapi setelah lulus kuliah dan setiap hari selalu disibukkan oleh pekerjaan di kantor, tidak ada lagi kegiatan wirausaha yang saya lalukan. Apalagi sekarang komunitas saya tidak lagi berasal dari kalangan koperasi dan enterpreneur-enterpreneur muda seperti ketika saya kuliah dulu. Seolah hal itu mulai meluntur pada diri saya.
Sebenarnya... sempat terlintas keinginan untuk membuka usaha sampingan selain kerja dikantor. Hanya saja masih terbentur masalah lokasi, waktu dan peluang usaha apa yang akan kita buka. Mo buka counter HP/ toko fotokopi/warnet/ apa lagi ya...? Sekedar untuk gambaran. Tempat tinggal saya berada di sebuah perumahan yang rata-rata penduduknya berada dalam ekonomi menengah keatas. Nah... rata-rata mereka sudah memiliki fasilitas yang lengkap. Mulai dari pulsa HP untuk keluarga, mesin print dan fotokopi pribadi sampai internet yang setiapp hari selalu online. Berbeda dengan lokasi daerah pendidikan yang banyak kos-kosan, daerah tersebut memang merupakan lahan basah bagi para pencari peruntungan. Buka usaha apapun, pasti bisa. Walaupun didaerah itu, mereka juga opunya banyak saingan. Tapi paling tidak... konsumen di daerah seperti itu jauh lebih banyak di banding dengan konsumen di daerah perumahan elite.
Nah... bagi temen-teman yang punya ide sebagai inspirasi untuk saya, saya tunggu masukannya yack...
Minggu, 26 April 2009
GARA-GARA SALAH INFORMASI

“ Pengumuman-pengumuman… ada perubahan jadwal seragam: untuk hari senin-selasa tetap pakai blazer hari rabu tetap pakai batik kantor, nah.. hari kamis yang biasanya pakai batik kantor berubah menjadi kemeja putih. Hari jum’at biasanya pakai kemeja putih berubah memakai kemeja bebas. Hari sabtu tetap pakai batik bebas. Tolong diperhatikan dan jangan sampai lupa ya!!!” Itulah pengumuman penting dari asisten Manajer dikantor yang disampaikan pada hari Senin pagi dan langsung kami catat baik-baik. Dicatat di blocknote dan dicatat di otak kami masing-masing.
Hari Selasa dan Rabu berjalan aman-aman saja, karena memang tidak ada perubahan jadwal seragam. Hingga detik-detik mendekati hari Kamis (Rabu malam), datang beberapa SMS dari teman-teman sebidang yang intinya meragukan tentang kapan mulai berlakunya jadwal seragam baru.
Balasan dari saya
” Sorry mbak, aq g denger si bapak bilang mulai kapannya... Mulai kpn ya mbak? Yuk kita cari info.”
Awalnya, saya yakin 100% bahwa esok hari seharusnya kami menggunakan seragam atasan kemeja putih, seperti yang telah di informasikan oleh Asman kami tempo hari. Tapi, berhubung informasi yang saya terima, saya berinisiatif untuk mencari informasi lebih lanjut. Kami berusaha menghubungi Assisten manajer kami tetapi HP tidak aktif. Alternatif lain, saya coba-coba mencari informasi ke rekan kami dari bidang lain.
Balasan SMS dari teman saya dari bidang Lain
” HAH?? Masa’ seh mbak ada perubahan jadwal seragam? Aku kok ga dikasih tau sama manajerku ya mbak?”
Saya menginformasikan informasi ini kepada teman-teman, bisa menjadi pertimbangan sih, kenapa teman dari bidang lain tidak mengetahui jika ada perubahan jadwal seragam. Karena kami berpedoman pada ”petuah” AsMan tempo hari, kami sepakat untuk mengenakan seragam atasan kemeja putih seperti yang telah ditentukan. Mungkin saja perubahan jadwal seragam memang hanya untuk bidang kami saja.
Keesokan harinya.....
Seperti yang kami duga. Dikantor, semua penghuni kantor masih tetap mengenakan seragam lama. Yaitu seragam batik kantor. Hanya bidang kami saja yang mengenakan atasan kemeja putih.
Hingga suatu saat... ketika kami akan memulai aktifitas rutin kami, Salah satu teman menghampiri kami.
Teman 1 :” Niiiid... gawat... gawat...”
Saya : ”Apanya yang gawat?”
Teman : ” Itu... Anu... soal seragam!!!”
Teman 2 : “ Oooo... soal seragam? Iya mbak, aku tau. Kita tampil beda kan? Yang laen masih tetep pakai seragam lama.”
Teman 1 : “ Bukan... bukan itu... tadi aku ketemu pak WeKa (baca: Wakil Kepala). Nah... beliau menegurku. Kenapa pake seragam beda. Disuruh ganti baju sekarang juga. Kalau ga ada batik, Minimal dirangkepin blazerlah...”
Saya : “ Lhoooo... tapi kan kita ini nurutin intruksi dari pak AsMan.”
Teman 1 : “ Itu dia masalahnya... kata Pak WeKa, semula memang mau diadakan perubahan jadwal dari kantor, tapi keputusan itu dicabut kembali sebelum adanya sosialisasi. Nah... Pak asMan terlanjur menginformasikan kepada kita, tapi tidak meralat kembali.”
Saya & Teman-teman: “ HAAAH....??” (koor bareng, serentak menoleh ke arah pak AsMan, geram) ”Pak ASMAAAAAAAAAAAAAN..........”
Pak AsMan : (nyengir) ” Maap... Maap...”
Dengan cepat kilat kami menyebar keseluruh kantor. Mencari pinjaman baju batik ataupun blazer (ada beberapa teman kantor yang menyimpan baju di kantor, saya tidak). Akhirnya... saya mendapat pinjaman blazer dari salah seorang manajer wanita dikantor. Waloupun agak kotor karena belum dicuci dan gedenya Na’udzubillah... tapi lebih baiklah... daripada tidak ada.
Dari pengalaman kami diatas, terfikir oleh saya bahwa Informasi yang valid sangat dibutuhkan dalam suatu organisasi maupun perusahaan. Untuk mewujudkannya, sangat diperlukan sistem komunikasi efektif untuk memastikan bahwa suatu organisasi / perusahaan mencapai sasarannya secara efektif. Jelaslah bahwa komunikasi dan informasi sangat berhubungan erat.
Arifin, 2003 : 156 menyebutkan beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan komunikasi yang efektif adalah
1.komunikasi harus bersifat manusiawi atau selalu memperhatikan sifat-sifat manusia.
2.komunikasi harus diusahakan seharmonis mungkin.
3.disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku selama ini.
4.Dilakukan melalui jalur kelembagaan yang tersedia dalam organisasi.
5.Disesuaikan dengan iklim atau situasi dan kondisi saat komunikasi berlangsung.
6.Memanfaatkan tekhnologi modern guna memperlancar komunikasi.
7.Memanfaatkan simbol-simbol maupun gerakan-gerakan yang sudah dipahami semua orang.
Komunikasi diharapkan dapat mencapai tujuan-tujuan tertentu, antara lain: Pertama, Komunikasi dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada klien, kolega, dan penyelia (supervisor). Kedua, komunikasi dapat dijadikan seseorang dapat diberikan informasi-informasi. Ketiga, Komunikasi bertujuan untuk mempengaruhi orang lain. Keempat, komunikasi bertujuan untuk menyelesaikan masalah dan keputusan. ( Arifin, 2003:141).
Merujuk pada tujuan-tujuan komunikasi diatas, semoga saja perusahaan-perusahaan maupun organisasi-organisasi dapat mewujudkannya dengan sempurna, sehingga tidak ada Miss Communication dan Miss understanding dalam mencapai tujuan organisasi / perusahaan.
Source: Arifin, Rois dkk. 2003. Perilaku Organisasi. Malang : Bayumedia.
Sabtu, 28 Maret 2009
UNFORGETTABLE MOMENT I'VE GOT IN PARE (part II)
Masih dalam rangka kangen ma Pare, gue lanjutin cerita-cerita n pengalaman-pengalaman di kampung Inggris itu. Asyik juga disimak sambil minum teh, atawa sambil baca koran. (trus... ngebrowsenya pake mata yang mana yack? hehe...) let's chek it out..
11.Warnet & Telur

Di manapun berada, mo di Malang, Sidoarjo atawa di Pare sekalipun, gue ga bisa lepas dari warnet. Walopun ga sempet blogging, gue tetep nyempetin ngechek imel, MP, FS dan jobstreet sehari sekali. Apalagi di sebelah camp gue ada warnet yang cuma berbatas tembok setinggi paha. Jadilah tiap hari gue duduk setia di depan internet warnet itu. Sampe si bapak warnet apal ma gue. Jangan bosyen ya pak...! ^_^ Suatu malam, gue sengaja beli telur jam 8 malem karena besok pagi buta males keluar buat beli sahuran (red: lagi bulan puasa nie). Besok tinggal goreng telor ajah, pikir gue. Setelah beli telor dari warung, seperti biasa gue mampir warnet disebelah camp. Gak terasa keasyikan ngenet tau-tau udah jam 21.05 WIB. Gawat! Camp udah dikunci neh. Dengan buru-buru, setelah bayar billing gue langsung lompat tembok pembatas warnet-camp setinggi paha (baca: biar cepet, ga pake acara muter lewat pager). Cowok-cowok camp yang liat pada tercengang. “ Busyeeet.. kalo siang namanya Miss Nida, kalo malem jadi Mister Nido. Hohoho...”. malu seh... tapi cuek aja ah!! Gue masih bisa nahan malu. Gak lama kemudian, terdengar suara orang manggil-manggil dari belakang. ” Mbak... mbak...” Pas gue liat, ternyata si pak warnet nguber gue dengan membawa sebuah bungkusan. ”Mbak.. mbak... telurnya ketinggalan.” (klo didenger-denger, jadi mirip suara Kiara di iklan GSM) Ooops...! Lagi-lagi ini cowo’-cowo’ berkomentar ”ternyata... walopun udah jadi Mister Nido, pikunnya masih tetep kayak Miss Nida yack?? Wakakakak... lagian ke warnet bawa telor segala. Ada juga ya USB b’bentuk telor. Wakakakakak. Kali ini gue ga bisa nahan malu n rasa kesel gue. Setelah say thanx ma bapak Warnet. Gue nyengir sambil ngacir. Ggrrrr...
12.Nilai TOEFL jeblok m’lulu
Duh, kalo yang ini seh aib. Ga penting buat diceritain, bukan konsumsi public. Hahaha…. Tapi setidaknya, dengan nilai yangmenurut gue pas-pasan itu, gue jadi belajar lebih giat dan mendapat hasil akhir yang lumayan lebih tinggi dibanding nilai TOEFL gue dikampus.
13.Diuber browniez
.GIF)
Yang ini bukan aib. Tapi gue malu ceritanya. Beberapa hari sebelum program TOEFL gue di Mahesa barakhir, kita saling tukeran no hape. Tujuannya untuk always keep contact sesama siswa kursus walopun dah pada pisah. Gue udah tukeran sama temen-temen cewek gue yang sekelas. Untuk yang cowok, gue Cuma kasih ke 1 orang temen gue, Sholeh. Malem harinya, Hp gue di telpon sama salah satu cowo di kelas TOEFL gue. Tapi gue kaget, karena orang tersebut bukan Sholeh (cowo’ satu-satunya yang gue kasih telpon kan Cuma dia), tapi si *****, cowo termuda di kelas gue, baru tamat SMU tahun 2008 ini. Awalnya Cuma ngobrol biasa, tapi lama-lama dia bilang mo minta foto gue, “ Lho kan udah ada foto dikelas yang bareng-bareng itu” gue ngeles n dia bales ngeles juga “Itu kan foto bareng, gue pengen foto lo yang sendirian n orisinil, langsung dari hape gue. Besok ketemuan ya…” waduh, gue bingung.. apa seh maksudnya anak ini? Makin hari tingkah dia ke gue makin aneh aja. Alhasil, saben kelar kursus gue langsung ngeloyor pulang, biar ga ketangkep dia, hehehe... Hingga pada suatu hari, dia berhasil menyatakan perasaannya ke gue walopun via telpon (habisnya gue ngilang m’lulu sih). Glek… Kok bisa ya? gue kaget, perasaan gue anak ter’slebor’ di kelas, tukang telat, nilai ga bagus-bagus amat, wajah ga cantik-cantik amat, sikap biasa-biasa aja, low profil lah... Kok bisa-bisanya dia ngefans ma gue? (mode on:narziz..) Orang yang selama ini luput dari perhatian gue, orang yang umurnya 5 tahun jauh dibawah gue (Walopun kata orang tampangnya manis juga sih. Hehe…). Oh God… What should I Do? Mbak-mbak rekan sekelas gue (red:gue siswa cewe’ termuda dikelas) yang tau peristiwa itu, bukannya bela’in gue malah ngeledekin “ Nida… Nida… Congratulation!!! Kamu siswa berprestasi dikelas ini. Bisa menggaet cowo terkiyut n terimut dikelas ini.” Ada juga yang comment “ Nid… si T2 aja bilang ‘cintai aku, brownies…’ masa’ kamu yang udah dicintai brownies malah kabur seeeh? Mubazirrrr!!!”
14.Sepeda gue dimanaaa?
“Nur, sepedaku dimana yack?” gue bingung nyariin sepeda gue yang ga ada diparkiran pas bubar kursus sore ini. Semua yang ada disitu jadi pada sibuk nyariin sepeda gue. Ya Allah… padahal hari ini kan limit nya sepeda itu. Rencananya hari ini gue mo memperpanjang sewa buat 1 bulan kedepan. Kalo ilang gimana dong? Oh mungkin aja lagi dipinjem bentar? Gue nungguin sampe semua kelas bubar, tapi sepeda gue tetep ga nongol juga. Gue makin bingung. Bukan masalah berapa duit yang harus gue bayar buat denda. Tapi bagaimana pertanggung jawaban gue ke Pak Rental sepeda itu. “Kamu pulang ngebonceng motorku aja Nid...kamu pucet gitu, mana lagi puasa lagi!” si Firman nawarin jasa. “Ga usah, Fir. Makasih, aku jalan ma Nur aja.” Dengan lunglai gue menyusuri sepenjang jalan Anyelir sambil celingak-celinguk. Kali aja sepeda gue ketemu. Tepat ketika gue cs nyampe depan Camp, gue liat ada cewe yang make sepeda warna merah, sedel dah sobek, pedal tinggal separoh, keranjang n stang udah pada goyang pas bgt dengan ciri-ciri sepeda gue. Gue spontan teriak. “ THAT MY BIKEEEE!!!”. Dengan spontan juga Firman narik gue ke motornya dan langsung tancep gas. Meninggalkan Nur yang tengah melongo karena belum sadar apa yang terjadi. Kebetulan di depan camp ada temen2 yang ngeliat aksi gue n Firman nguber sepeda. Merekapun teriak-teriak ”Go Nida Go Nida Go...” (bergaya bak cheersleader). Anak-anak camp tetangga yang lagi pada study club di bawah pohon kersen pada ikutan nimbrung sambil ngikik. Tapi sial…! Si pelaku itu tiba-tiba ilang. Kenapa segitu cepetnya ya? Bertepatan dengan itu, adzan magribpun berkumandang. Duh… gue jadi gak laper… gak haus… gak pengen buka ah! Tapi demi melaksanakan perintah agama, gue mampir ke warung makan untuk beli bukaan. Ada niat juga mo ntraktir Firman karena dia udah bantuin gue nguber-nguber sepeda ampe maghrib. Tapi ternyata... Firman sudah hilang tak berbekas... pergi kemesjid terdekat. Bukan untuk menyegerakan sholat Maghrib. Tapi untuk mencari ta’jil gratis...hehehe
Perjuangan masih berlanjut. Setelah buka puasa, gue dapet SMS dari tentor gue ” Nid, ternyata sepedamu tadi dipake ma Miss **in (red:salah satu tentor di kursusan gue juga) ntar habis tarawih coba kamu cari sepedamu di Che*** (red:salah satu camp yang berada dijalan yang sama dengan camp gue” HAH? Gue kaget... masa seh yang pake sepeda gue tu tentor situ juga? Ba’da tarawih, gue langsung ke camp itu dan ketemu langsung sama si pelaku. Dengan wajah innocent, dia Cuma bilang ”Kupukir itu sepeda adekku. Ternyata bukan... ternyata sepeda adekku yang biru” Duh... kok bisa sih sepeda yang jelas2 berwarna merah bisa dikira sepeda biru? Akhirnya gue bawa pulang lagi sepeda sewaan gue itu, tanpa sedikitpun permintaan maaf darinya. Yang bikin gue kecewa Kenapa ga bilang-bilang dulu ama yang punya? Pasti gue pinjemin. Inikah sikap seorang tentor yang menjadi tauladan bagi para siswanya? Mulai hari itu, esok dan seterusnya... untuk mengantisipasi kejadian yang serupa, gue beli kunci sepeda. Pelajaran bagi temen-temen yang akan / sedang kursus di Pare dengan menggunakan sepeda, Kuncilah sepeda anda ketika memarkirnya. Banyak kasus kehilangan sepeda. Bukan karena pencurian sepeda. Tapi karena banyak anak-anak yang sembarangan pake sepeda orang. Di camp gue aja udah ada 4 sepeda yang ilang selama sebulan. Ck... ck.. ck...
15.Kejebak di Kincir raksasa
Detik-detik hari terakhir di Pare, anak-anak secamp Putri yang tinggal berapa gelintir ngadain acara jalan-jalan ke alun-alun jalan kaki, bener-bener JALAN-JALAN. Padahal jarak antara camp dengan alun-alun lumayan jauh. Tapi kalo udah bareng ma temen-temen, jarak seberapa jauhpun ga kerasa. Maka dihari terakhir itu, setelah tarawih kamipun menjalankan aksi itu. Acara cangkru’an + muter-muter alun-alun berjalan lancar. Sampe akhirnya kami memutuskan untuk pulang pukul 21.00 WIB. Sepanjang perjalanan pulang kita gak berenti ngakak n ngikik bareng. Ada aja tingkah anak-anak yang konyol. Nah, di tengah perjalanan pulang, tepatnya di lapangan depan pemakaman, sedang diadakan pasar malem. Salah satu anak camp gue, Izoel merengek (kayak anak kecil aje) ngajak naek kincir raksasa. Gue ingetin bahwa sekarang udah jam 21.00 n kita kudu balik ke Camp secepatnya. ” Halah... gapapa lah... ini kan malem terakhir, lagian Leader kita kan dah pada midik, so gpp pulang malem. Hehe..” kilahnya. Akhirnya, setelah Izoel berhasil memprovokasi anak-anak, akhirnya kita semua sepakat naek kincir raksasa sebelom pulang. Oke deh... itung-itung buat kenang-kenangan malem terakhir di Pare. Setelah bayar karcis Rp 3000,00/ orang, Kami memasuki box kincir. Kami naek 1 box bertiga. Gue 1 box ma 2 anak Madura yang English Maduraness Stylenya kental banget, Miss Nita n Miss Matus. Nah… konon kabarnya, si Nita ni phobia ketinggian. Tapi berhubung anak 1 camp pada kompakan naek Kincir semua, diapun takut dibawah sendirian. Apalagi di deket situ ada kuburan. Walhasil, selama si Kincir Raksasa muter, dia sukses teriak-teriak dengan bahasa Inggris logat maduranya itu sambil merem “ Helep mi… helep mi…”. Dengan lagak sok psikolog, gue menterapi dia dengan ngitungin berapa detik lamanya dia berani melek dalam setiap puteran. Hasilnya lumayan meningkat. Puteran pertama, dia Cuma berani melek selama 5 detik. Puteran kedua, dia berani melek 8 detik. Puteran ketiga 13 detik, dst menunjukkan peningkatan. Hingga puteran ke 10 dia berani melek lama banget. Sekitar 15 menit. Hoks.. 15 menit? 1 puteran aja ga nyampe 15 menit. Gue liat ke bawah. Baru nyadar, ternyata… Kincir Raksasa yang kita naekin macet. Setelah nunggu si petugas ngebenerin mesin beberapa menit, akhirnya mesin kembali nyala dan kincir pun bisa muter lagi. Alhamdulillah.. Tapi… belum selesei deg-degan kita, tiba-tiba mesin berhenti lagi. Si petugas kembali ngutek-ngutek mesin. Semenit… dua menit… 10 menit… 15 menit… Kok ga nyala-nyala yack? Smua mulai cemas. Semua sarana permainan yang ada di pasar malem udah pada berhenti. Pengunjung sudah habis, kecuali kamui yang sedang terjebak di kincir raksasa. Semua petugas pasar malem pada ngerumunin mesin kincir kami. Ada yang bawa obeng, ada yang bawa oli, ada juga yang bawa matras. What? Matras? Buat apa thu? Masa’ kita disuruh terjun? Mana gue berada di box paling atas lagi. Anak-anak lesu… entah merenungi nasib, entah menyesal, yang jelas, yang ada di hati gue saat ini adalah mohon ampun. Ya Allah… ampuni dosa hamba-hambaMu ini. Oh Leader… forgive us… Ibu kost… maapin juga, kita pergi ga bilang-bilang… sampai kapan kami terus menuggu seperti ini? Kalo sampe besok pagi ga bisa muter jua, berarti kita ga bisa turun, berarti besok ga jadi pulang. Alternatif terburuk adalah loncat dari box setinggi 3 meter ke matras tipis yang udah disiapin ma para kru. Iya kalo kita lompat dengan sukses. Kalo ga pas, trus kaki kita patah, kepala remuk bagai kerupuk, gimana dunk? HWAAAAA... Berbagai pikiran parno kita mulai menggerogoti otak. Entah berapa lama kami semedi di dalam box, tiba-tiba mesin mulai nyala. Grek… kincir mulai berputar kembali. ALHAMDULILLAH… kami semua spontan bersyukur. Setelah mendarat dengan sukses, gue liat jam udah nunjukin pukul 23.15 WIB. Masya allah... kita terkurung dikincir raksasa selama 2 jam lebih. Bener-bener kita mengukir Unforgettable moment
16.“Bubar” sebelum bubar
Moment yang paling kami tunggu-tunggu selama kursus di Daffodile pada bulan puasa adalah “Bubar” alias buka puasa bareng. Tapi karena program yang kita jalani super padat, ditambah kesibukan para siswa sendiri kerena mereka ambil program ga Cuma 1 tempat. Jadinya baru sempet ngadain bubar bareng pas sehari sebelom bubar (baca:hari terakhir di Pare). Dan hari itu bertepatan dengan hari ultah gue. ( Alhamdulillah gue berhasil merahasiakan ultah gue. Biar ga dikerjain ma mereka. Hehehe...).
Yups... itulah pengalaman-pengalaman yang gue dapet selama di Pare. Semoga di lain kesempatan, Allah masih memberi kesempatan menuntut ilmu disana lagi. Amin...
11.Warnet & Telur
Di manapun berada, mo di Malang, Sidoarjo atawa di Pare sekalipun, gue ga bisa lepas dari warnet. Walopun ga sempet blogging, gue tetep nyempetin ngechek imel, MP, FS dan jobstreet sehari sekali. Apalagi di sebelah camp gue ada warnet yang cuma berbatas tembok setinggi paha. Jadilah tiap hari gue duduk setia di depan internet warnet itu. Sampe si bapak warnet apal ma gue. Jangan bosyen ya pak...! ^_^ Suatu malam, gue sengaja beli telur jam 8 malem karena besok pagi buta males keluar buat beli sahuran (red: lagi bulan puasa nie). Besok tinggal goreng telor ajah, pikir gue. Setelah beli telor dari warung, seperti biasa gue mampir warnet disebelah camp. Gak terasa keasyikan ngenet tau-tau udah jam 21.05 WIB. Gawat! Camp udah dikunci neh. Dengan buru-buru, setelah bayar billing gue langsung lompat tembok pembatas warnet-camp setinggi paha (baca: biar cepet, ga pake acara muter lewat pager). Cowok-cowok camp yang liat pada tercengang. “ Busyeeet.. kalo siang namanya Miss Nida, kalo malem jadi Mister Nido. Hohoho...”. malu seh... tapi cuek aja ah!! Gue masih bisa nahan malu. Gak lama kemudian, terdengar suara orang manggil-manggil dari belakang. ” Mbak... mbak...” Pas gue liat, ternyata si pak warnet nguber gue dengan membawa sebuah bungkusan. ”Mbak.. mbak... telurnya ketinggalan.” (klo didenger-denger, jadi mirip suara Kiara di iklan GSM) Ooops...! Lagi-lagi ini cowo’-cowo’ berkomentar ”ternyata... walopun udah jadi Mister Nido, pikunnya masih tetep kayak Miss Nida yack?? Wakakakak... lagian ke warnet bawa telor segala. Ada juga ya USB b’bentuk telor. Wakakakakak. Kali ini gue ga bisa nahan malu n rasa kesel gue. Setelah say thanx ma bapak Warnet. Gue nyengir sambil ngacir. Ggrrrr...
12.Nilai TOEFL jeblok m’lulu
Duh, kalo yang ini seh aib. Ga penting buat diceritain, bukan konsumsi public. Hahaha…. Tapi setidaknya, dengan nilai yang
13.Diuber browniez
Yang ini bukan aib. Tapi gue malu ceritanya. Beberapa hari sebelum program TOEFL gue di Mahesa barakhir, kita saling tukeran no hape. Tujuannya untuk always keep contact sesama siswa kursus walopun dah pada pisah. Gue udah tukeran sama temen-temen cewek gue yang sekelas. Untuk yang cowok, gue Cuma kasih ke 1 orang temen gue, Sholeh. Malem harinya, Hp gue di telpon sama salah satu cowo di kelas TOEFL gue. Tapi gue kaget, karena orang tersebut bukan Sholeh (cowo’ satu-satunya yang gue kasih telpon kan Cuma dia), tapi si *****, cowo termuda di kelas gue, baru tamat SMU tahun 2008 ini. Awalnya Cuma ngobrol biasa, tapi lama-lama dia bilang mo minta foto gue, “ Lho kan udah ada foto dikelas yang bareng-bareng itu” gue ngeles n dia bales ngeles juga “Itu kan foto bareng, gue pengen foto lo yang sendirian n orisinil, langsung dari hape gue. Besok ketemuan ya…” waduh, gue bingung.. apa seh maksudnya anak ini? Makin hari tingkah dia ke gue makin aneh aja. Alhasil, saben kelar kursus gue langsung ngeloyor pulang, biar ga ketangkep dia, hehehe... Hingga pada suatu hari, dia berhasil menyatakan perasaannya ke gue walopun via telpon (habisnya gue ngilang m’lulu sih). Glek… Kok bisa ya? gue kaget, perasaan gue anak ter’slebor’ di kelas, tukang telat, nilai ga bagus-bagus amat, wajah ga cantik-cantik amat, sikap biasa-biasa aja, low profil lah... Kok bisa-bisanya dia ngefans ma gue? (mode on:narziz..) Orang yang selama ini luput dari perhatian gue, orang yang umurnya 5 tahun jauh dibawah gue (Walopun kata orang tampangnya manis juga sih. Hehe…). Oh God… What should I Do? Mbak-mbak rekan sekelas gue (red:gue siswa cewe’ termuda dikelas) yang tau peristiwa itu, bukannya bela’in gue malah ngeledekin “ Nida… Nida… Congratulation!!! Kamu siswa berprestasi dikelas ini. Bisa menggaet cowo terkiyut n terimut dikelas ini.” Ada juga yang comment “ Nid… si T2 aja bilang ‘cintai aku, brownies…’ masa’ kamu yang udah dicintai brownies malah kabur seeeh? Mubazirrrr!!!”
14.Sepeda gue dimanaaa?
“Nur, sepedaku dimana yack?” gue bingung nyariin sepeda gue yang ga ada diparkiran pas bubar kursus sore ini. Semua yang ada disitu jadi pada sibuk nyariin sepeda gue. Ya Allah… padahal hari ini kan limit nya sepeda itu. Rencananya hari ini gue mo memperpanjang sewa buat 1 bulan kedepan. Kalo ilang gimana dong? Oh mungkin aja lagi dipinjem bentar? Gue nungguin sampe semua kelas bubar, tapi sepeda gue tetep ga nongol juga. Gue makin bingung. Bukan masalah berapa duit yang harus gue bayar buat denda. Tapi bagaimana pertanggung jawaban gue ke Pak Rental sepeda itu. “Kamu pulang ngebonceng motorku aja Nid...kamu pucet gitu, mana lagi puasa lagi!” si Firman nawarin jasa. “Ga usah, Fir. Makasih, aku jalan ma Nur aja.” Dengan lunglai gue menyusuri sepenjang jalan Anyelir sambil celingak-celinguk. Kali aja sepeda gue ketemu. Tepat ketika gue cs nyampe depan Camp, gue liat ada cewe yang make sepeda warna merah, sedel dah sobek, pedal tinggal separoh, keranjang n stang udah pada goyang pas bgt dengan ciri-ciri sepeda gue. Gue spontan teriak. “ THAT MY BIKEEEE!!!”. Dengan spontan juga Firman narik gue ke motornya dan langsung tancep gas. Meninggalkan Nur yang tengah melongo karena belum sadar apa yang terjadi. Kebetulan di depan camp ada temen2 yang ngeliat aksi gue n Firman nguber sepeda. Merekapun teriak-teriak ”Go Nida Go Nida Go...” (bergaya bak cheersleader). Anak-anak camp tetangga yang lagi pada study club di bawah pohon kersen pada ikutan nimbrung sambil ngikik. Tapi sial…! Si pelaku itu tiba-tiba ilang. Kenapa segitu cepetnya ya? Bertepatan dengan itu, adzan magribpun berkumandang. Duh… gue jadi gak laper… gak haus… gak pengen buka ah! Tapi demi melaksanakan perintah agama, gue mampir ke warung makan untuk beli bukaan. Ada niat juga mo ntraktir Firman karena dia udah bantuin gue nguber-nguber sepeda ampe maghrib. Tapi ternyata... Firman sudah hilang tak berbekas... pergi kemesjid terdekat. Bukan untuk menyegerakan sholat Maghrib. Tapi untuk mencari ta’jil gratis...hehehe
Perjuangan masih berlanjut. Setelah buka puasa, gue dapet SMS dari tentor gue ” Nid, ternyata sepedamu tadi dipake ma Miss **in (red:salah satu tentor di kursusan gue juga) ntar habis tarawih coba kamu cari sepedamu di Che*** (red:salah satu camp yang berada dijalan yang sama dengan camp gue” HAH? Gue kaget... masa seh yang pake sepeda gue tu tentor situ juga? Ba’da tarawih, gue langsung ke camp itu dan ketemu langsung sama si pelaku. Dengan wajah innocent, dia Cuma bilang ”Kupukir itu sepeda adekku. Ternyata bukan... ternyata sepeda adekku yang biru” Duh... kok bisa sih sepeda yang jelas2 berwarna merah bisa dikira sepeda biru? Akhirnya gue bawa pulang lagi sepeda sewaan gue itu, tanpa sedikitpun permintaan maaf darinya. Yang bikin gue kecewa Kenapa ga bilang-bilang dulu ama yang punya? Pasti gue pinjemin. Inikah sikap seorang tentor yang menjadi tauladan bagi para siswanya? Mulai hari itu, esok dan seterusnya... untuk mengantisipasi kejadian yang serupa, gue beli kunci sepeda. Pelajaran bagi temen-temen yang akan / sedang kursus di Pare dengan menggunakan sepeda, Kuncilah sepeda anda ketika memarkirnya. Banyak kasus kehilangan sepeda. Bukan karena pencurian sepeda. Tapi karena banyak anak-anak yang sembarangan pake sepeda orang. Di camp gue aja udah ada 4 sepeda yang ilang selama sebulan. Ck... ck.. ck...
15.Kejebak di Kincir raksasa
Detik-detik hari terakhir di Pare, anak-anak secamp Putri yang tinggal berapa gelintir ngadain acara jalan-jalan ke alun-alun jalan kaki, bener-bener JALAN-JALAN. Padahal jarak antara camp dengan alun-alun lumayan jauh. Tapi kalo udah bareng ma temen-temen, jarak seberapa jauhpun ga kerasa. Maka dihari terakhir itu, setelah tarawih kamipun menjalankan aksi itu. Acara cangkru’an + muter-muter alun-alun berjalan lancar. Sampe akhirnya kami memutuskan untuk pulang pukul 21.00 WIB. Sepanjang perjalanan pulang kita gak berenti ngakak n ngikik bareng. Ada aja tingkah anak-anak yang konyol. Nah, di tengah perjalanan pulang, tepatnya di lapangan depan pemakaman, sedang diadakan pasar malem. Salah satu anak camp gue, Izoel merengek (kayak anak kecil aje) ngajak naek kincir raksasa. Gue ingetin bahwa sekarang udah jam 21.00 n kita kudu balik ke Camp secepatnya. ” Halah... gapapa lah... ini kan malem terakhir, lagian Leader kita kan dah pada midik, so gpp pulang malem. Hehe..” kilahnya. Akhirnya, setelah Izoel berhasil memprovokasi anak-anak, akhirnya kita semua sepakat naek kincir raksasa sebelom pulang. Oke deh... itung-itung buat kenang-kenangan malem terakhir di Pare. Setelah bayar karcis Rp 3000,00/ orang, Kami memasuki box kincir. Kami naek 1 box bertiga. Gue 1 box ma 2 anak Madura yang English Maduraness Stylenya kental banget, Miss Nita n Miss Matus. Nah… konon kabarnya, si Nita ni phobia ketinggian. Tapi berhubung anak 1 camp pada kompakan naek Kincir semua, diapun takut dibawah sendirian. Apalagi di deket situ ada kuburan. Walhasil, selama si Kincir Raksasa muter, dia sukses teriak-teriak dengan bahasa Inggris logat maduranya itu sambil merem “ Helep mi… helep mi…”. Dengan lagak sok psikolog, gue menterapi dia dengan ngitungin berapa detik lamanya dia berani melek dalam setiap puteran. Hasilnya lumayan meningkat. Puteran pertama, dia Cuma berani melek selama 5 detik. Puteran kedua, dia berani melek 8 detik. Puteran ketiga 13 detik, dst menunjukkan peningkatan. Hingga puteran ke 10 dia berani melek lama banget. Sekitar 15 menit. Hoks.. 15 menit? 1 puteran aja ga nyampe 15 menit. Gue liat ke bawah. Baru nyadar, ternyata… Kincir Raksasa yang kita naekin macet. Setelah nunggu si petugas ngebenerin mesin beberapa menit, akhirnya mesin kembali nyala dan kincir pun bisa muter lagi. Alhamdulillah.. Tapi… belum selesei deg-degan kita, tiba-tiba mesin berhenti lagi. Si petugas kembali ngutek-ngutek mesin. Semenit… dua menit… 10 menit… 15 menit… Kok ga nyala-nyala yack? Smua mulai cemas. Semua sarana permainan yang ada di pasar malem udah pada berhenti. Pengunjung sudah habis, kecuali kamui yang sedang terjebak di kincir raksasa. Semua petugas pasar malem pada ngerumunin mesin kincir kami. Ada yang bawa obeng, ada yang bawa oli, ada juga yang bawa matras. What? Matras? Buat apa thu? Masa’ kita disuruh terjun? Mana gue berada di box paling atas lagi. Anak-anak lesu… entah merenungi nasib, entah menyesal, yang jelas, yang ada di hati gue saat ini adalah mohon ampun. Ya Allah… ampuni dosa hamba-hambaMu ini. Oh Leader… forgive us… Ibu kost… maapin juga, kita pergi ga bilang-bilang… sampai kapan kami terus menuggu seperti ini? Kalo sampe besok pagi ga bisa muter jua, berarti kita ga bisa turun, berarti besok ga jadi pulang. Alternatif terburuk adalah loncat dari box setinggi 3 meter ke matras tipis yang udah disiapin ma para kru. Iya kalo kita lompat dengan sukses. Kalo ga pas, trus kaki kita patah, kepala remuk bagai kerupuk, gimana dunk? HWAAAAA... Berbagai pikiran parno kita mulai menggerogoti otak. Entah berapa lama kami semedi di dalam box, tiba-tiba mesin mulai nyala. Grek… kincir mulai berputar kembali. ALHAMDULILLAH… kami semua spontan bersyukur. Setelah mendarat dengan sukses, gue liat jam udah nunjukin pukul 23.15 WIB. Masya allah... kita terkurung dikincir raksasa selama 2 jam lebih. Bener-bener kita mengukir Unforgettable moment
16.“Bubar” sebelum bubar
Moment yang paling kami tunggu-tunggu selama kursus di Daffodile pada bulan puasa adalah “Bubar” alias buka puasa bareng. Tapi karena program yang kita jalani super padat, ditambah kesibukan para siswa sendiri kerena mereka ambil program ga Cuma 1 tempat. Jadinya baru sempet ngadain bubar bareng pas sehari sebelom bubar (baca:hari terakhir di Pare). Dan hari itu bertepatan dengan hari ultah gue. ( Alhamdulillah gue berhasil merahasiakan ultah gue. Biar ga dikerjain ma mereka. Hehehe...).
Yups... itulah pengalaman-pengalaman yang gue dapet selama di Pare. Semoga di lain kesempatan, Allah masih memberi kesempatan menuntut ilmu disana lagi. Amin...
Rabu, 18 Maret 2009
Sêbúah Pèngäkùän Døsä pädä Usúsku
Ususku chäyank.. Maafkan daku karena akhir-akhir ini telah mendzalimimu. Ternyata opname slama 1 minggu di RS Siti Khodijah di penutup tahun lalu belum membuatku benar-benar 'jera'. Tapi sumpah, sus! Aku sayang banget ma kamu. Aku ga mau sampe kamu infeksi lagi.
Usúsku chayank..
Memang akhir-akhir ini aku sering melakukan pelanggaran-pelanggaran. Ternyata aku telah khilaf. Sedikit terlènä oleh nikmat kesehatan yang telah Alläh berikän pädäku. Akupun lùpä dèngan päntängän-päntängan däri Dr Noer, dokter spesialisku selama aku 'berlibur' di rumah sakit.
Ususkù chäyänk..
Ini diä pelanggaran-pelanggärànku yang bikin hari ini aku terkapar lèmah dikäsur karena kamu kumat lagi.
Pélänggärän pertämä terjadi minggu siang. Saat mbolang bareng ibuku. Setelah capek muter-muter Juanda, kami mampir ke bakso Soponyono. Awalnya si nyokap ga ngijinin. Tapi setelah melihat ratapan anaknya yang mupeng bgt karena uda berbulan-bulan puasa bakso dan aku janji "ga pedes-pedes", akhirnya nyokap ga tega juga dan mengijinkanku menyantap bakso. Asyek..di pertengahan menikmati bakso, muncullah ide bandelku. Lirik ke arah nyokap. Yes!! Beliau lagi asyik menikmati stiap suap makanan favoritenya. Pasti ga liat klo aq ngambil sedikit sambel di sebelahku. Dikit aja koq, cuman seujung sendok. Cuman biar baksonya ga hambar-hambar amat. Säät aku menyendok 'seuprit' sambel. Nyokap liat. Hwayyöö..ketauan!! "hehe.. (nyengir kuda) ini bu,aku cuma mo ngenalin sambel dikit aja ke usus,biar ususku ga kaget kalo ntar kepepet ga ada makanan yg tanpa sambel di acara prasmanan. Sakit kan ga boleh dimanjain. Ya kan bu..^_^" lh.. Anak ibu pinter ngeles.
Pelänggäran kedua.
Terjadi säät si Ina,adekku yang palinggak imoet dapet bejibun coklat dari Bagøes, yayanknya. Ina yang kebanjiran cokelat, aku yang ikut seneng menikmati makanan favoriteku itu. Sampe lupa deh kalo cokelat itu masuk dalam salah satu list pantangan.
Pelanggaran ke 3. Kemaren sore ikut-ikutan pesen mie ayamnya cak Krie di belakang kantor. Habisnya.. Awalnya sempet ragu seh, pas rekan kerja ngajakin makan mie ayam. Tapi entah dapet bisikan setan darimana. Akhirnya aku tergoda juga.
Kalo yang ke 4 ini, bukan pelanggaran tapi kecelakaan. Tadi malem pulang kerja rasanya haus bgt. Pengen yang seger2. Pengen beli buah. Nah,karena di sepanjang Waru byk org2 jual jeruk di pinggir jalan,mampirlah aku ke salah 1 penjual jeruk di pinggr jalan itu. Dari awal mo beli, kayaknya aku uda ada feeling ga meyakinkan. Mulai dari harga yang kelewat mahal, mo bayar ga ada kembalian, dll. Tapi entah kenapa aku tetep beristiqomah untuk membelinya. Sesampai dirumah, saat aku menikmati jeruk "Astagfirullah.. Ni jeruk asem bgt yack?!!" spontan aku menghentikan makan jeruk itu. Aku mencari-cari sesuatu yang bisa kumakan dan menghilangkan rasa asam dimulutku. Kubuka kulkas, ku temukan jelly. Tanpa ba..bi..bu.. Lagi langsung kusantap. Dan hasilnya.. Omaigat!! Perutku langsung sakit, terasa ditonjok-tonjok Mike Tyson, langsung ngacir ke toilet.. Lemezz. Hingga pagi ini hanya bisa merintih kesakitan dan nungging plus terkapar d tempat tidur. Menghubungi atasan di kantor, minta ijin masuk agak sorean karena masih sakit.
Maafkan aku bos, maafkan aku ibu, maafkan aku dokter,
maafkan aku rekan-rekan kantorku.. Semua jadi kacau gara-gara aku sakit. Dan ususku chayank.. Maafkän aku juga. Aq janji ga akan mendzalimimu lagi. Piss.. ^_^V
Teaching point in this case:
Terkadang Allah memberikan sakit kepada kita, agar kita dapat mensyukuri nikmat sehat yang telah Allah berikan pada kita. Dan manusia sering khilaf akan nikmat tersebut.
Usúsku chayank..
Memang akhir-akhir ini aku sering melakukan pelanggaran-pelanggaran. Ternyata aku telah khilaf. Sedikit terlènä oleh nikmat kesehatan yang telah Alläh berikän pädäku. Akupun lùpä dèngan päntängän-päntängan däri Dr Noer, dokter spesialisku selama aku 'berlibur' di rumah sakit.
Ususkù chäyänk..
Ini diä pelanggaran-pelanggärànku yang bikin hari ini aku terkapar lèmah dikäsur karena kamu kumat lagi.
Pélänggärän pertämä terjadi minggu siang. Saat mbolang bareng ibuku. Setelah capek muter-muter Juanda, kami mampir ke bakso Soponyono. Awalnya si nyokap ga ngijinin. Tapi setelah melihat ratapan anaknya yang mupeng bgt karena uda berbulan-bulan puasa bakso dan aku janji "ga pedes-pedes", akhirnya nyokap ga tega juga dan mengijinkanku menyantap bakso. Asyek..di pertengahan menikmati bakso, muncullah ide bandelku. Lirik ke arah nyokap. Yes!! Beliau lagi asyik menikmati stiap suap makanan favoritenya. Pasti ga liat klo aq ngambil sedikit sambel di sebelahku. Dikit aja koq, cuman seujung sendok. Cuman biar baksonya ga hambar-hambar amat. Säät aku menyendok 'seuprit' sambel. Nyokap liat. Hwayyöö..ketauan!! "hehe.. (nyengir kuda) ini bu,aku cuma mo ngenalin sambel dikit aja ke usus,biar ususku ga kaget kalo ntar kepepet ga ada makanan yg tanpa sambel di acara prasmanan. Sakit kan ga boleh dimanjain. Ya kan bu..^_^" lh.. Anak ibu pinter ngeles.
Pelänggäran kedua.
Terjadi säät si Ina,adekku yang paling
Pelanggaran ke 3. Kemaren sore ikut-ikutan pesen mie ayamnya cak Krie di belakang kantor. Habisnya.. Awalnya sempet ragu seh, pas rekan kerja ngajakin makan mie ayam. Tapi entah dapet bisikan setan darimana. Akhirnya aku tergoda juga.
Kalo yang ke 4 ini, bukan pelanggaran tapi kecelakaan. Tadi malem pulang kerja rasanya haus bgt. Pengen yang seger2. Pengen beli buah. Nah,karena di sepanjang Waru byk org2 jual jeruk di pinggir jalan,mampirlah aku ke salah 1 penjual jeruk di pinggr jalan itu. Dari awal mo beli, kayaknya aku uda ada feeling ga meyakinkan. Mulai dari harga yang kelewat mahal, mo bayar ga ada kembalian, dll. Tapi entah kenapa aku tetep beristiqomah untuk membelinya. Sesampai dirumah, saat aku menikmati jeruk "Astagfirullah.. Ni jeruk asem bgt yack?!!" spontan aku menghentikan makan jeruk itu. Aku mencari-cari sesuatu yang bisa kumakan dan menghilangkan rasa asam dimulutku. Kubuka kulkas, ku temukan jelly. Tanpa ba..bi..bu.. Lagi langsung kusantap. Dan hasilnya.. Omaigat!! Perutku langsung sakit, terasa ditonjok-tonjok Mike Tyson, langsung ngacir ke toilet.. Lemezz. Hingga pagi ini hanya bisa merintih kesakitan dan nungging plus terkapar d tempat tidur. Menghubungi atasan di kantor, minta ijin masuk agak sorean karena masih sakit.
Maafkan aku bos, maafkan aku ibu, maafkan aku dokter,
maafkan aku rekan-rekan kantorku.. Semua jadi kacau gara-gara aku sakit. Dan ususku chayank.. Maafkän aku juga. Aq janji ga akan mendzalimimu lagi. Piss.. ^_^V
Teaching point in this case:
Terkadang Allah memberikan sakit kepada kita, agar kita dapat mensyukuri nikmat sehat yang telah Allah berikan pada kita. Dan manusia sering khilaf akan nikmat tersebut.
Sabtu, 28 Februari 2009
SÅÄT HÅTÌ KÉCÍL BÎÇÄRÄ
Dèngan wajah cèmbèrut, Sí bäpäk bercèrìtä pädä säyä bähwa beliau bäru dätäng dåri Jøgja, nåik kereta api sampai Wönøkrömø. Sèsampai di Surabaya, ternyata uängnya súdah häbìs. Díá tidäk pegang uäng samä sèkäli. Hänyä uang Rp.3000,00 di tängän,itupun ia däpätkan däri penjual tahu cämpur di tepi jalan. Dan sesampainya d Bungur nanti, dia masih harus nyambung angkot ke Krian,sedangkan saat ini ia sudah tidak punya uang sepeserpun. (sambil memperlihatkan isi dompet dan sakunya yang kosong).Begitulah cerita yg keluar dari mulutnya. Entah benär atau salah, hanya Tuhan yang tau.
Häti säya tersèntuh, mèráså kasihan pada si bäpäk. Tètåpi saya teringat pésan para keluarga dan orang-orang terdekat
* "Hati-hati sama kehidupan malem di Surabaya, Nid! Banyak perampøkan, penipuan, perkøsaan, dll"
* "Jängän mudah percaya sama orang yg bäru dikenal, Nid."
Dän masih banyak lagi 'wanti-wanti' yang mengatakan Waspadalah..waspadalah!!
Säyä mencoba berläku cuek atas cerita si Bapak itu. Saya melirik ke arahnya. Pandangannya kosong, bibir cemberut. Saya mencoba berfikir logis, Di antara bisikan-bisikan setan vs malaikat.
"Ati-ati Nid,kali aja thu orang ngibulin lo!"
"Kasihan Bapak itu. Dimana rasa perikemanusiaanmu, Tega melihat orang lain m'derita.Masa sih kamu tidak mau memberinya sepeserpun?"
"Yee.. Salah ndiri napa dah tau perjalanan jauh kok bawa duit pas-pasan?"
"Siapa tau bapak itu bäru dapet musibah. Inget Nid, gak selamänya kamu berada di atas. Suatu saat kamu juga butuh pertøløngan orang lain."
"Ntar klo lø kasih dia duit,ternyata dia penipu gimana?trus stelah lo kena,malem berikutnya dia ngincer lo mlulu gimana? Tidaaak!!"
"Serahkan smua pada Allah. Yang penting niatmu ikhlas. Masalah dia bohong/jujur. Biar Allah yang memberi ganjaran."
Saya merogoh tas. Ingin memberinya uang. Ternyata di tas hanya ada uang Rp7000,00 untuk nyambung angkot dr bungur-juanda.(sbnrnya didompet masih ada uang jaga2,tapi saya anggap tidak bs diganggu-gugat karena memang untuk keperluan sangat mendesak.Dan memang itu uang besar,tidak adä kembalian). Saya keluarkan Rp2000,00. Saya berikan pada si Bapak. "Maaf pak,hanya ini yang saya punya.sayapun masih butuh ongkos untuk pulang. Tapi saya ikhlas kok,pak!" Dengan cepat ia menerima pemberian saya. Aneh,ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali. Berterima kasihpun tidak. Atau mungkin.. Ia kecewa karena pemberian saya sangat sedikit. Apapun yang terjadi, Wallahu alam.. Saya serahkan semua pada Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)
