Rabu, 03 Agustus 2011

Tetaplah bersinar!


Titik air di awan, bimbang tentukan arah. Akankah mengikuti arah angin yang menjanjikan gemerlap keindahan? Ataukah tinggal bersama awan yang selama ini memberinya keteduhan? Mentari datang... Berikan secercah pencerahan. Membimbing dan menyinarinya.. Hingga menjadi pelangi dengan rona indah warna-warni. Semakin yakin akan potensi yang dimilikinya. Tersirat asa tuk mewarnai dunia sekelilingnya. Membawanya smakin mengagumi kebesaran Yang Kuasa. Namun saat ini, Mentari mulai redup. Gelisah tertutup awan. Resah terusik kabut. Namun, satu keyakinan: Mentari tak kan pernah lelah bersinar. Dan kembali hangatkan dunia. Tetap semangat, Mentari! Kami rindukan cerahmu...

Juanda, 2 Juni 2011

Lomba Menulis Essai dengan Tema “Menjadi Manusia Indonesia: Berbakti pada Negeri” (Deadline 16 September 2011)

Lomba ini bertujuan untuk menumbuhkan (membangkitkan kembali) karakter ke-Indonesiaan yang positif, yang kini sudah banyak hilang dari jiwa masyarakatnya, meningkatkan kebanggaan & kecintaan terhadap tanah air Indonesia, membuktikan rasa bangga & cinta tanah air dengan berkontribusi nyata bagi perubahan dan kemajuan Republik Indonesia.

Tulisan bisa berupa kisah pribadi atau orang lain yang menceritakan karakter-karakter positif, pengabdian, dan kontribusi bagi negeri. Tulisan tidak harus berupa kisah-kisah heroik atau perjuangan besar dan massif. Kisah-kisah sederhana yang menceritakan nilai-nilai kejujuran, integritas, semangat berkorban, pengabdian, ketulusan, kebermanfaataan dan kontribusi positif bagi negeri (yang inspiratif dan menggugah), pun sangat layak Anda tuliskan! ^_^

1. Waktu Pelaksanaan Lomba
a. Penjaringan naskah dibuka pada tanggal 29 Juni – 16 September 2011.
b. Pengumuman pemenang dilakukan pada tanggal 25 September 2011.

2. Tata Cara Perlombaan

Syarat dan Ketentuan Peserta:
a. Peserta merupakan Warga Negara Indonesia (WNI).
b. Peserta tidak dibatasi usia, jenis kelamin, dan tempat tinggal.
c. Tiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu naskah.
d. Tiap peserta wajib mem-posting informasi ini melalui note akun facebook-nya (bila memiliki FB) dan men-tag 20 orang temannya, atau mem-posting di blog-nya (bila memiliki blog).

Syarat dan Ketentuan Naskah
(Tema: “Menjadi Manusia Indonesia: Berbakti pada Negeri”):
a. Naskah yang diperlombakan merupakan naskah original, bukan saduran maupun plagiat, dan tidak pernah dikirim atau dipublikasikan di media mana pun.
b. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik (bukan bahasa alay).
c. Naskah tidak mengandung unsur pornografi, pornoaksi, bahasa vulgar, dan pertentangan SARA.
d. Naskah diketik pada kertas A4, font Times New Roman, 12 pt, spasi 1.5, justify, minimal 5000 karakter.
e. Melampirkan naskah dengan biodata yang berisi: nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, nomor identitas (KTP/SIM/ Paspor/ Kartu Pelajar/Mahasiswa), alamat lengkap, nomor telp/HP, nomor rekening yang masih berlaku, alamat FB (bila memiliki FB), alamat blog (bila memiliki blog). Boleh juga ditambahkan narasi singkat kegiatan saat ini atau prestasi yang dimiliki (optional).
e. Naskah dikirim ke alamat email: mujahidah_87@yahoo.com & nuryazidi@gmail.com, dengan format: ESSAI_NAMA PENGIRIM_JUDUL.
f. Naskah diterima oleh penyelenggara selambatnya tanggal 16 September 2011, pukul 23.00 WIB.
f. Pengumuman pemenang akan disampaikan di akun facebook Asti Latifa Sofi & Mohammad Nuryazidi,page Gerakan “Aku Anak Indonesia”, serta akan dikirimkan ke alamat email masing-masing peserta pada tanggal 25 September 2011.
g. Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.

2. Hadiah
Juara 1: Uang senilai Rp300.000,00
Juara 2: Uang senilai Rp200.000,00
Juara 3: Uang senilai Rp100.000,00
Juara Harapan 1 (sebanyak 3 orang): masing-masing akan mendapatkan bingkisan buku
Juara Harapan 2 (sebanyak 19 orang): masing-masing akan mendapatkan piagam penghargaan
* 25 naskah terpilih akan dikompilasikan menjadi satu buku yang insya Allah akan diterbitkan.

SELAMAT BERLOMBA! ^_^

*** Mohon share ke teman-teman yang lain ya! Terima kasih... ^_^

Senin, 07 Februari 2011

TERKADANG... PILIHAN YANG TERBAIK BELUM TENTU YANG TERENAK


Entah bagaimana saya harus memulai cerita ini, yang jelas, saya mengambil judul ini dari pengalaman saya Senin lalu, tepatnya pada tgl 24 Januari 2011.

Beberapa minggu ini, saya merasa tidak bersemangat sekali dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Memang, saat ini ada beberapa tekanan (bahasa kerennya dalam Psikologi adalah Stress) baik dari Fisik, Pikiran dan perasaan. Pagi itu saya sangat tidak enak ati untuk memulai aktivitas hari itu. “Walaupun gak semangat, saya harus tetap menebar semangat untuk anak-anak didikq”. Itulah satu2nya senjata ampuh saya untuk tetap membangkitkan kembali semangat, dan meluncurlah saya dengan mengendarai Beatty (motor Beat Putih kesayangan saya) menuju sekolahan saya yang berjarak kurang lebih 25 Km jauhnya (Dari rumah saya Sidoarjo sampe Perak, Ujung Utara kota Surabaya).

Alhamdulillah... akhirnya pekerjaan hari itu berhasil saya lalui dengan mulus. Namun... entah kenapa, untuk pulang ke rumah kok rasanya “aras2en” yack? Setelah kedua partnert saya bersiap-siap pulang, akhirnya saya pun memutuskan untuk pulang.

Sampai di parkiran, ternyata langit mendung dan hujan rintik-rintik turun. Akhirnya saya putuskan untuk memakai mantel karena saya lihat langit sebelah selatan mendung tebal. Dan... ternyata keputusan saya untuk memakai mantekl sangatlah tepat. Karena baru sampai JMP saja hujan tiba-tiba semakin deras.

Jalan Rajawali yang saya lalui biasanya sangat macet, banyak becak, sepeda onthel dan orang-orang berlalu lalang kali ini sangat sepi dan lengang karena derasnya hujan yang turun. Saya pun meluncur dengan tenang, walaupun terkadang sesekali pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang sedang mengganggu saya akhir-akhir ini datang. Saya mencoba mengalihkan dan kembali berkonsentrasi.

Setiba di Jalan Pahlawan, saya tetap meluncur anteng di jalur tengah. Jalan ini ada tiga jalur. Jalur kanan untuk kendaraan yang akan memutari tugu pahlawan, jalur tengah untuk kendaraan yang lurus, dan jalur kiri untuk kendaraan yang akan belok kiri. Karena saya akan berjalan lurus, maka saya tetap berada di jalur lurus. Lagi asyik-asyiknya meluncur, tiba-tiba dari arah kiri saya melihat ada sebuah motor yang awalnya berjalan lurus, tapi entah kenapa ia tiba-tiba serong ke kanan. Motor itu tiba-tiba mendekati saya tanpa memberi aba-aba ataupun rating lampu terlebih dahulu.
Dengan sigap saya membaca kejadian itu, saya perkirakan jika saya tetap meluncur dengan kecepatan yang konstan seperti ini, beberapa meter ke depan pasti bakalan terjadi kecelakaan dahsyat yang mengancam jiwa saya dan pengendara motor tersebut. Jika saya memilih untuk mengerem mendadak, bisa-bisa terjadi tabrakan beruntun di belakang saya. Jika saya banting kemudi ke kanan secara tiba-tiba pun pasti akan lebih banyak lagi korban. Namun.. jika saya berusaha mengurangi kecepatan secara perlahan-lahan dan mengklakson dia dengan maksud memberitahu bahwa ada motor di sebelahnya, mungkin dia akan mengurangi kecepatannya dan kami berdua bisa selamat. Tapi kemungkinan buruknya.. jika dia tetap dalam keadaan ngebut seperti itu, maka salah satu diantara kami pasti akan ada yang terjatuh.
Pilihan yang terakhir itu yang saya ambil. Dengan cepat saya membunyikan klakson dan mengerem. Dan ternyata... CIIIIIIIITTTT..................... GUBRAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKKK
Badan saya terhempas ke aspal di jalan depan tugu Pahlawan. Dengan kaki kanan saya tertindih Beatty. Ditengah hujan deras yang mengguyur dan ribetnya mantel yang saya kenakan, dalam posisi terkapar saya mencoba untuk mengangkat motor saya. Tapi tidak kuat. Saya menjerit kesakitan, namun karena mulut tertutup slayer dan ditambah dengan backsound derasnya hujan dan suara klakson dimana-mana, tak ada satupun orang yang mendengarnya. Kaki saya semakin sakit, tak tahan lagi, tiba-tiba pandangan saya gelapp.... gelapp..... dan gelapp....


Jalan raya di sekeliling tugu pahlawan yang rawan kecelakaan

Saya membuka mata dan ternyata saya sudah berada di sebuah pos satpol PP.
“Mbak... mbak sudah sadar? Saya melihat kejadian itu” Kata seorang satpol PP.
Masih dengan mengucek-ucek mata saya bertanya “Saya ada di mana ini mas?"
"Mba ada di Pemprov.. mba aman disini"
Kepala masih pusing karena benturan keras yang saya alami, saya sendiri tidak menyangka akan dibawa ke tempat ini. Mau tidak mau saya harus menghubungi seseorang yang selama ini susah sekali untuk bertemu. Kini dengan mudahnya bertemu dengan dia dengan keadaan seperti ini.
"Dimana motor yang menabrak saya mas? Apa dia selamat?”
“ Wah.. dia tidak jatuh sama sekali mba. Hanya sempet oleng sedikit kemudian sudah kabur. Mbak... untung mbak ngerem pelan-pelan. Seandainya mbak masih tetep ngebut, pasti orang itu dan mbak ga hanya jatuh. Tapi tabrakan dahsyattt”
Alhamdulillah... walaupun kaki saya terluka dan tempurung lutut saya bergeser yang menyebabkan hingga detik ini saya belum bisa berjalan dengan normal, paling tidak, itu adalah keputusan terbaik yang saya ambil. Dalam kondisi yang tidak ada pilihan lain lagi. Walaupun tidak enak kerena harus menjerit-jerit kesakitan menjalani terapi pijet rutin untuk mengembalikan posisi tempurung lutut yang bergeser dan kaki bengkak, akan lebih tidak enak lagi jika tubuh saya berlumuran darah dan patah tulang karena mengambil keputusan yang salah pada saat itu...

px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150p

Note: Thx so much untuk seseorang di Pemprov sana yang masih peduli denganku, menolongku dan mengantarkanku pulang.

Minggu, 02 Januari 2011

DOA untuk DIA yang akan menjadi KeKaSih HaLaLQ.

*sebuah catatan dari Lian... dengan perubahan seperlunya*

Ya ALLAH,,,
Aku berdoa untuk seorang lelaki yang akan menjadi bagian dari hidupku.
Seorang yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu.
Seorang lelaki yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau.
Seorang lelaki yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMU.
Wajah ganteng dan daya tarik fisik bukanlah yang terpenting.
Yang paling penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan haus akan Engkau
dan memiliki keinginan untuk menauladani sifat-sifat Agung Mu
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia-sia.

Seseorang yang memiliki hati yang bijak bukan hanya otak yang cerdas.
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku.
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati ketika aku berbuat salah.
Seorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tetapi karena hatiku.
Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu & situasi.
Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika berada disebelahnya.

Aku tidak meminta seorang yang sempurna,
Namun ku harap aku dapat mencintainya dengan sempurna,
sehingga aku dapat membuatnya sempurna dimataMU.
Seorang lelaki yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.
Seorang lelaki yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya.
Seseorang yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya.
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.

Dan aku juga meminta:
Buatlah aku menjadi seorang perempuan yang dapat membuat pria itu bangga.
Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU,
sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMU,
bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.
Berikanlah SifatMU yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMU bukan dari luar diriku.
Berilah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya.
Berikanlah aku penglihatanMU sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya dan bukan hal buruk saja.
Berikan aku mulutMU yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMU dan pemberi semangat,
sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari,
dan aku dapat tersenyum padanya setiap pagi.

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu,
aku berharap kami berdua dapat mengatakaan
“Betapa besarnya ALLAH karena itu Dia telah memberikan kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna”.
Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kau tentukan.

SUBHALLAH...
AMIN YA RAHMAAN YA RAHIIM..
..(-_-)..AL-FATIHAH..
AMIIIN YA MUJIIB..

Senin, 19 Juli 2010

CINTA dan Pasir dalam Genggaman



Sadar gak sich…? Terkadang memiliki rasa cinta yang terlalu berlebihan, justru menjebak kita dalam sebuah sikap yang kurang menyenangkan (bagi kita, dan juga bagi orang yang kita cintai tersebut). Pernah denger yang namanya Over protected khan? Nah.. sikap itu adalah manivestasi dari rasa takut kehilangan seseorang terhadap orang yang dicintainya.

Mencintai seseorang layaknya memegang pasir dalam genggaman.
Semakin kencang kita menggenggam, maka akan semakin banyak pasir yang akan keluar dari celah-celah jari kita.
Begitu pula sebaliknya, jika kita memberi ruang untuk pasir itu (misal dengan menengadahkan tangan) maka akan semakin banyak pasir yang tertampung didalam telapak tangan.

Teaching point dari filsafat ini:
Semakin kita mengekang seseorang, maka keinginan orang itu untuk berontak akan semakin tinggi. Bahkan, bisa jadi orang tersebut akan menjauhi kita karena tidak kuat dengan ikatan-ikatan yang kita berikan.
Sebaliknya, jika kita memberikan ruang gerak dan kepercayaan padanya, justru ia akan semakin memegang kepercayaan yang telah kita berikan tersebut, dan tidak membuatnya menjauhi kita.

Maka, jika kamu mencintai seseorang (misal, cinta seorang ibu kepada anaknya, cinta seorang suami kepada istrinya, cinta seseorang pada kekasihnya, dll) jangan terlalu mengekangnya. Ga ada salahnya kita membiarkan ia jalan-jalan atau nongkrong bersama teman-temannya tanpa kamu untit selama 24 jam nonstop. Toh, kamu masih bisa memantaunya via telepon. Dan ga ada salahnya kita memberinya kepercayaan untuk bergaul dengan teman-temannya, insyaAllah dia akan semakin mencintaimu atas kepercayaan yang sudah kamu berikan. Percaya deehhh! ^_^v

Juanda, 9 Juli 2010

(Terinspirasi saat bermain pasir pantai Balekambang bebarapa waktu lalu, sambil di curhati temen-temen tentang pasangan masing-masing)

Rabu, 17 Maret 2010

”Papa, kembalikan tangan Ita.........“ (sebuah pembelajaran tentang tindakan)


Sebuah kisah yang saya kutip dari sebuah blog, dan saya fordward dari note seorang teman. Semoga bisa kita ambil hikmahnya untuk dijadikan pengalaman dan palajaran.

Begini kutipannya:
Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja.
Dia bermain diluar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya, ataupun memetik bunga matahari, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu bapak dan ibunya mengendarai motor ke tempat kerja karena ada perayaan Thaipusam sehingga jalanan macet. Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imajinasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.
Pulang petang itu, terkejutlah ayah ibunya melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini?" Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya.
Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan 'Tak tahu... !" "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Ita yg membuat itu papa.... cantik kan!" katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya.
Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa?. Si bapak cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.
Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Ita demam..." jawab pembantunya ringkas."Kasih minum obat sakit kapala," jawab si ibu.
Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke hospital karena keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu.
"Tidak ada pilihan.." katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena gangren yang terjadi sudah terlalu parah.
"Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah" kata doktor.
Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar menandatangani surat persetujuan pembedahan.
Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang suntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran2 melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.
"Papa.. Mama... Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul papa. Ita tak mau jahat. Ita sayang papa.. sayang mama." katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.
"Ita juga sayang Kak Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris.
"Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa ambil.. Ita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi," katanya berulang-ulang.
Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.
*"jika tidak dapat apa yang kita suka...belajarlah utk menyukai apa yang
kita dapat.." *SoMeTiMeS GoOd PeOpLe Do EvIl ThiNgs....
fordward from: Yudha mantebs


Ironis benar kisah ini. Dalam usia Ita, yaitu pada usia 3,5 tarbagi 2 masa, yaitu masa Vital dan masa Estetik. Pada Masa Vital, individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar. Sedangkan Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka. Dengan kreativitasnya, Ita menggambar pada mobil ayahnya adalah bentuk pencapaian aktualisasi oleh Ita dalam masa perkembangan ini.

Jika berbicara masalah hukuman (punishment), hukuman sebaiknya diberikan dalam bentuk yang mendidik (pedagogis). Pada dasarnya, punishment diartikan sebagai hukuman atau sanksi. Jika reward merupakan bentuk reinforcement yang positif; maka punishment sebagai bentuk reinforcement yang negatif, tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Tujuan dari metode ini adalah menimbulkan rasa tidak senang pada seseorang supaya mereka jangan membuat sesuatu yang jahat. Jadi, hukuman yang dilakukan mesti bersifat pedagogies, yaitu untuk memperbaiki dan mendidik ke arah yang lebih baik, bukan betrsifat emosional seperti yang dilakukan oleh ayah Ita. Melihat dari fungsinya itu, seolah keduanya berlawanan, tetapi pada hakekatnya sama-sama bertujuan agar seseorang menjadi lebih baik, termasuk dalam memotivasi anak untuk bertindak lebih baik.

Jadi, Ijinkan mereka untuk untuk melalui masa Estetika dengan sempurna, namun harus dengan kontrol yang baik dari pihak orang tua dan tetap dalam jalur yang tepat.




Source: http://ilmu-psikologi.blogspot.com/2009/05/fase-dan-tugas-perkembangan.html
http://blog.isi-dps.ac.id/hendra/?p=175

Rabu, 03 Maret 2010

MISS U PARE, MISS U ALL...

Kemaren (2 maret 2010) saya beberapa kali menerima message dari kawan-kawan lama di Pare. Mereka menanyakan kabar, aktivitas, hingga “Kapan lagi kau belajar ke Pare?”

Hari ini, (3 maret 2010) sayapun menerima seebuah message dari teman dunia maya tentang Pare. Sayapun menjawabnya sebisa mungkin informasi yang saya ketahui tentang Pare.

Belajar Bahasa Asing di kampung Pare, memang memberikan suasana dan kesan tersendiri bagi saya dan teman-teman. Sehingga timbul keinginan untuk kembali menuntut ilmu dan berkumpul bersama teman-teman lagi di alam sejuk nan agamis itu. Namun, apa daya kesibukanlah yang hingga saat ini masih menjadi penghalang terwujudnya niat suci ini (lebayy…). But I’m sure… Altought we can’t meet anymore, We can keep contact until now. U have our mobile phone number and email adreess, Aren’t u? Komunikasi bisa tetap berjalan dengan memanfaatkan tehknologi. Ok, See Ya… ^_^V