Minggu, 26 April 2009

GARA-GARA SALAH INFORMASI



“ Pengumuman-pengumuman… ada perubahan jadwal seragam: untuk hari senin-selasa tetap pakai blazer hari rabu tetap pakai batik kantor, nah.. hari kamis yang biasanya pakai batik kantor berubah menjadi kemeja putih. Hari jum’at biasanya pakai kemeja putih berubah memakai kemeja bebas. Hari sabtu tetap pakai batik bebas. Tolong diperhatikan dan jangan sampai lupa ya!!!” Itulah pengumuman penting dari asisten Manajer dikantor yang disampaikan pada hari Senin pagi dan langsung kami catat baik-baik. Dicatat di blocknote dan dicatat di otak kami masing-masing.

Hari Selasa dan Rabu berjalan aman-aman saja, karena memang tidak ada perubahan jadwal seragam. Hingga detik-detik mendekati hari Kamis (Rabu malam), datang beberapa SMS dari teman-teman sebidang yang intinya meragukan tentang kapan mulai berlakunya jadwal seragam baru.

Balasan dari saya
” Sorry mbak, aq g denger si bapak bilang mulai kapannya... Mulai kpn ya mbak? Yuk kita cari info.”

Awalnya, saya yakin 100% bahwa esok hari seharusnya kami menggunakan seragam atasan kemeja putih, seperti yang telah di informasikan oleh Asman kami tempo hari. Tapi, berhubung informasi yang saya terima, saya berinisiatif untuk mencari informasi lebih lanjut. Kami berusaha menghubungi Assisten manajer kami tetapi HP tidak aktif. Alternatif lain, saya coba-coba mencari informasi ke rekan kami dari bidang lain.

Balasan SMS dari teman saya dari bidang Lain
” HAH?? Masa’ seh mbak ada perubahan jadwal seragam? Aku kok ga dikasih tau sama manajerku ya mbak?”

Saya menginformasikan informasi ini kepada teman-teman, bisa menjadi pertimbangan sih, kenapa teman dari bidang lain tidak mengetahui jika ada perubahan jadwal seragam. Karena kami berpedoman pada ”petuah” AsMan tempo hari, kami sepakat untuk mengenakan seragam atasan kemeja putih seperti yang telah ditentukan. Mungkin saja perubahan jadwal seragam memang hanya untuk bidang kami saja.

Keesokan harinya.....
Seperti yang kami duga. Dikantor, semua penghuni kantor masih tetap mengenakan seragam lama. Yaitu seragam batik kantor. Hanya bidang kami saja yang mengenakan atasan kemeja putih.
Hingga suatu saat... ketika kami akan memulai aktifitas rutin kami, Salah satu teman menghampiri kami.
Teman 1 :” Niiiid... gawat... gawat...”
Saya : ”Apanya yang gawat?”
Teman : ” Itu... Anu... soal seragam!!!”
Teman 2 : “ Oooo... soal seragam? Iya mbak, aku tau. Kita tampil beda kan? Yang laen masih tetep pakai seragam lama.”
Teman 1 : “ Bukan... bukan itu... tadi aku ketemu pak WeKa (baca: Wakil Kepala). Nah... beliau menegurku. Kenapa pake seragam beda. Disuruh ganti baju sekarang juga. Kalau ga ada batik, Minimal dirangkepin blazerlah...”
Saya : “ Lhoooo... tapi kan kita ini nurutin intruksi dari pak AsMan.”
Teman 1 : “ Itu dia masalahnya... kata Pak WeKa, semula memang mau diadakan perubahan jadwal dari kantor, tapi keputusan itu dicabut kembali sebelum adanya sosialisasi. Nah... Pak asMan terlanjur menginformasikan kepada kita, tapi tidak meralat kembali.”
Saya & Teman-teman: “ HAAAH....??” (koor bareng, serentak menoleh ke arah pak AsMan, geram) ”Pak ASMAAAAAAAAAAAAAN..........”
Pak AsMan : (nyengir) ” Maap... Maap...”

Dengan cepat kilat kami menyebar keseluruh kantor. Mencari pinjaman baju batik ataupun blazer (ada beberapa teman kantor yang menyimpan baju di kantor, saya tidak). Akhirnya... saya mendapat pinjaman blazer dari salah seorang manajer wanita dikantor. Waloupun agak kotor karena belum dicuci dan gedenya Na’udzubillah... tapi lebih baiklah... daripada tidak ada.

Dari pengalaman kami diatas, terfikir oleh saya bahwa Informasi yang valid sangat dibutuhkan dalam suatu organisasi maupun perusahaan. Untuk mewujudkannya, sangat diperlukan sistem komunikasi efektif untuk memastikan bahwa suatu organisasi / perusahaan mencapai sasarannya secara efektif. Jelaslah bahwa komunikasi dan informasi sangat berhubungan erat.


Arifin, 2003 : 156 menyebutkan beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan komunikasi yang efektif adalah
1.komunikasi harus bersifat manusiawi atau selalu memperhatikan sifat-sifat manusia.
2.komunikasi harus diusahakan seharmonis mungkin.
3.disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku selama ini.
4.Dilakukan melalui jalur kelembagaan yang tersedia dalam organisasi.
5.Disesuaikan dengan iklim atau situasi dan kondisi saat komunikasi berlangsung.
6.Memanfaatkan tekhnologi modern guna memperlancar komunikasi.
7.Memanfaatkan simbol-simbol maupun gerakan-gerakan yang sudah dipahami semua orang.

Komunikasi diharapkan dapat mencapai tujuan-tujuan tertentu, antara lain: Pertama, Komunikasi dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada klien, kolega, dan penyelia (supervisor). Kedua, komunikasi dapat dijadikan seseorang dapat diberikan informasi-informasi. Ketiga, Komunikasi bertujuan untuk mempengaruhi orang lain. Keempat, komunikasi bertujuan untuk menyelesaikan masalah dan keputusan. ( Arifin, 2003:141).

Merujuk pada tujuan-tujuan komunikasi diatas, semoga saja perusahaan-perusahaan maupun organisasi-organisasi dapat mewujudkannya dengan sempurna, sehingga tidak ada Miss Communication dan Miss understanding dalam mencapai tujuan organisasi / perusahaan.

Source: Arifin, Rois dkk. 2003. Perilaku Organisasi. Malang : Bayumedia.

Sabtu, 28 Maret 2009

UNFORGETTABLE MOMENT I'VE GOT IN PARE (part II)

Masih dalam rangka kangen ma Pare, gue lanjutin cerita-cerita n pengalaman-pengalaman di kampung Inggris itu. Asyik juga disimak sambil minum teh, atawa sambil baca koran. (trus... ngebrowsenya pake mata yang mana yack? hehe...) let's chek it out..


11.Warnet & Telur

Di manapun berada, mo di Malang, Sidoarjo atawa di Pare sekalipun, gue ga bisa lepas dari warnet. Walopun ga sempet blogging, gue tetep nyempetin ngechek imel, MP, FS dan jobstreet sehari sekali. Apalagi di sebelah camp gue ada warnet yang cuma berbatas tembok setinggi paha. Jadilah tiap hari gue duduk setia di depan internet warnet itu. Sampe si bapak warnet apal ma gue. Jangan bosyen ya pak...! ­^_^ Suatu malam, gue sengaja beli telur jam 8 malem karena besok pagi buta males keluar buat beli sahuran (red: lagi bulan puasa nie). Besok tinggal goreng telor ajah, pikir gue. Setelah beli telor dari warung, seperti biasa gue mampir warnet disebelah camp. Gak terasa keasyikan ngenet tau-tau udah jam 21.05 WIB. Gawat! Camp udah dikunci neh. Dengan buru-buru, setelah bayar billing gue langsung lompat tembok pembatas warnet-camp setinggi paha (baca: biar cepet, ga pake acara muter lewat pager). Cowok-cowok camp yang liat pada tercengang. “ Busyeeet.. kalo siang namanya Miss Nida, kalo malem jadi Mister Nido. Hohoho...”. malu seh... tapi cuek aja ah!! Gue masih bisa nahan malu. Gak lama kemudian, terdengar suara orang manggil-manggil dari belakang. ” Mbak... mbak...” Pas gue liat, ternyata si pak warnet nguber gue dengan membawa sebuah bungkusan. ”Mbak.. mbak... telurnya ketinggalan.” (klo didenger-denger, jadi mirip suara Kiara di iklan GSM) Ooops...! Lagi-lagi ini cowo’-cowo’ berkomentar ”ternyata... walopun udah jadi Mister Nido, pikunnya masih tetep kayak Miss Nida yack?? Wakakakak... lagian ke warnet bawa telor segala. Ada juga ya USB b’bentuk telor. Wakakakakak. Kali ini gue ga bisa nahan malu n rasa kesel gue. Setelah say thanx ma bapak Warnet. Gue nyengir sambil ngacir. Ggrrrr...

12.Nilai TOEFL jeblok m’lulu
Duh, kalo yang ini seh aib. Ga penting buat diceritain, bukan konsumsi public. Hahaha…. Tapi setidaknya, dengan nilai yang menurut gue pas-pasan itu, gue jadi belajar lebih giat dan mendapat hasil akhir yang lumayan lebih tinggi dibanding nilai TOEFL gue dikampus.

13.Diuber browniez

Yang ini bukan aib. Tapi gue malu ceritanya. Beberapa hari sebelum program TOEFL gue di Mahesa barakhir, kita saling tukeran no hape. Tujuannya untuk always keep contact sesama siswa kursus walopun dah pada pisah. Gue udah tukeran sama temen-temen cewek gue yang sekelas. Untuk yang cowok, gue Cuma kasih ke 1 orang temen gue, Sholeh. Malem harinya, Hp gue di telpon sama salah satu cowo di kelas TOEFL gue. Tapi gue kaget, karena orang tersebut bukan Sholeh (cowo’ satu-satunya yang gue kasih telpon kan Cuma dia), tapi si *****, cowo termuda di kelas gue, baru tamat SMU tahun 2008 ini. Awalnya Cuma ngobrol biasa, tapi lama-lama dia bilang mo minta foto gue, “ Lho kan udah ada foto dikelas yang bareng-bareng itu” gue ngeles n dia bales ngeles juga “Itu kan foto bareng, gue pengen foto lo yang sendirian n orisinil, langsung dari hape gue. Besok ketemuan ya…” waduh, gue bingung.. apa seh maksudnya anak ini? Makin hari tingkah dia ke gue makin aneh aja. Alhasil, saben kelar kursus gue langsung ngeloyor pulang, biar ga ketangkep dia, hehehe... Hingga pada suatu hari, dia berhasil menyatakan perasaannya ke gue walopun via telpon (habisnya gue ngilang m’lulu sih). Glek… Kok bisa ya? gue kaget, perasaan gue anak ter’slebor’ di kelas, tukang telat, nilai ga bagus-bagus amat, wajah ga cantik-cantik amat, sikap biasa-biasa aja, low profil lah... Kok bisa-bisanya dia ngefans ma gue? (mode on:narziz..) Orang yang selama ini luput dari perhatian gue, orang yang umurnya 5 tahun jauh dibawah gue (Walopun kata orang tampangnya manis juga sih. Hehe…). Oh God… What should I Do? Mbak-mbak rekan sekelas gue (red:gue siswa cewe’ termuda dikelas) yang tau peristiwa itu, bukannya bela’in gue malah ngeledekin “ Nida… Nida… Congratulation!!! Kamu siswa berprestasi dikelas ini. Bisa menggaet cowo terkiyut n terimut dikelas ini.” Ada juga yang comment “ Nid… si T2 aja bilang ‘cintai aku, brownies…’ masa’ kamu yang udah dicintai brownies malah kabur seeeh? Mubazirrrr!!!”

14.Sepeda gue dimanaaa?
“Nur, sepedaku dimana yack?” gue bingung nyariin sepeda gue yang ga ada diparkiran pas bubar kursus sore ini. Semua yang ada disitu jadi pada sibuk nyariin sepeda gue. Ya Allah… padahal hari ini kan limit nya sepeda itu. Rencananya hari ini gue mo memperpanjang sewa buat 1 bulan kedepan. Kalo ilang gimana dong? Oh mungkin aja lagi dipinjem bentar? Gue nungguin sampe semua kelas bubar, tapi sepeda gue tetep ga nongol juga. Gue makin bingung. Bukan masalah berapa duit yang harus gue bayar buat denda. Tapi bagaimana pertanggung jawaban gue ke Pak Rental sepeda itu. “Kamu pulang ngebonceng motorku aja Nid...kamu pucet gitu, mana lagi puasa lagi!” si Firman nawarin jasa. “Ga usah, Fir. Makasih, aku jalan ma Nur aja.” Dengan lunglai gue menyusuri sepenjang jalan Anyelir sambil celingak-celinguk. Kali aja sepeda gue ketemu. Tepat ketika gue cs nyampe depan Camp, gue liat ada cewe yang make sepeda warna merah, sedel dah sobek, pedal tinggal separoh, keranjang n stang udah pada goyang pas bgt dengan ciri-ciri sepeda gue. Gue spontan teriak. “ THAT MY BIKEEEE!!!”. Dengan spontan juga Firman narik gue ke motornya dan langsung tancep gas. Meninggalkan Nur yang tengah melongo karena belum sadar apa yang terjadi. Kebetulan di depan camp ada temen2 yang ngeliat aksi gue n Firman nguber sepeda. Merekapun teriak-teriak ”Go Nida Go Nida Go...” (bergaya bak cheersleader). Anak-anak camp tetangga yang lagi pada study club di bawah pohon kersen pada ikutan nimbrung sambil ngikik. Tapi sial…! Si pelaku itu tiba-tiba ilang. Kenapa segitu cepetnya ya? Bertepatan dengan itu, adzan magribpun berkumandang. Duh… gue jadi gak laper… gak haus… gak pengen buka ah! Tapi demi melaksanakan perintah agama, gue mampir ke warung makan untuk beli bukaan. Ada niat juga mo ntraktir Firman karena dia udah bantuin gue nguber-nguber sepeda ampe maghrib. Tapi ternyata... Firman sudah hilang tak berbekas... pergi kemesjid terdekat. Bukan untuk menyegerakan sholat Maghrib. Tapi untuk mencari ta’jil gratis...hehehe
Perjuangan masih berlanjut. Setelah buka puasa, gue dapet SMS dari tentor gue ” Nid, ternyata sepedamu tadi dipake ma Miss **in (red:salah satu tentor di kursusan gue juga) ntar habis tarawih coba kamu cari sepedamu di Che*** (red:salah satu camp yang berada dijalan yang sama dengan camp gue” HAH? Gue kaget... masa seh yang pake sepeda gue tu tentor situ juga? Ba’da tarawih, gue langsung ke camp itu dan ketemu langsung sama si pelaku. Dengan wajah innocent, dia Cuma bilang ”Kupukir itu sepeda adekku. Ternyata bukan... ternyata sepeda adekku yang biru” Duh... kok bisa sih sepeda yang jelas2 berwarna merah bisa dikira sepeda biru? Akhirnya gue bawa pulang lagi sepeda sewaan gue itu, tanpa sedikitpun permintaan maaf darinya. Yang bikin gue kecewa Kenapa ga bilang-bilang dulu ama yang punya? Pasti gue pinjemin. Inikah sikap seorang tentor yang menjadi tauladan bagi para siswanya? Mulai hari itu, esok dan seterusnya... untuk mengantisipasi kejadian yang serupa, gue beli kunci sepeda. Pelajaran bagi temen-temen yang akan / sedang kursus di Pare dengan menggunakan sepeda, Kuncilah sepeda anda ketika memarkirnya. Banyak kasus kehilangan sepeda. Bukan karena pencurian sepeda. Tapi karena banyak anak-anak yang sembarangan pake sepeda orang. Di camp gue aja udah ada 4 sepeda yang ilang selama sebulan. Ck... ck.. ck...

15.Kejebak di Kincir raksasa
Detik-detik hari terakhir di Pare, anak-anak secamp Putri yang tinggal berapa gelintir ngadain acara jalan-jalan ke alun-alun jalan kaki, bener-bener JALAN-JALAN. Padahal jarak antara camp dengan alun-alun lumayan jauh. Tapi kalo udah bareng ma temen-temen, jarak seberapa jauhpun ga kerasa. Maka dihari terakhir itu, setelah tarawih kamipun menjalankan aksi itu. Acara cangkru’an + muter-muter alun-alun berjalan lancar. Sampe akhirnya kami memutuskan untuk pulang pukul 21.00 WIB. Sepanjang perjalanan pulang kita gak berenti ngakak n ngikik bareng. Ada aja tingkah anak-anak yang konyol. Nah, di tengah perjalanan pulang, tepatnya di lapangan depan pemakaman, sedang diadakan pasar malem. Salah satu anak camp gue, Izoel merengek (kayak anak kecil aje) ngajak naek kincir raksasa. Gue ingetin bahwa sekarang udah jam 21.00 n kita kudu balik ke Camp secepatnya. ” Halah... gapapa lah... ini kan malem terakhir, lagian Leader kita kan dah pada midik, so gpp pulang malem. Hehe..” kilahnya. Akhirnya, setelah Izoel berhasil memprovokasi anak-anak, akhirnya kita semua sepakat naek kincir raksasa sebelom pulang. Oke deh... itung-itung buat kenang-kenangan malem terakhir di Pare. Setelah bayar karcis Rp 3000,00/ orang, Kami memasuki box kincir. Kami naek 1 box bertiga. Gue 1 box ma 2 anak Madura yang English Maduraness Stylenya kental banget, Miss Nita n Miss Matus. Nah… konon kabarnya, si Nita ni phobia ketinggian. Tapi berhubung anak 1 camp pada kompakan naek Kincir semua, diapun takut dibawah sendirian. Apalagi di deket situ ada kuburan. Walhasil, selama si Kincir Raksasa muter, dia sukses teriak-teriak dengan bahasa Inggris logat maduranya itu sambil merem “ Helep mi… helep mi…”. Dengan lagak sok psikolog, gue menterapi dia dengan ngitungin berapa detik lamanya dia berani melek dalam setiap puteran. Hasilnya lumayan meningkat. Puteran pertama, dia Cuma berani melek selama 5 detik. Puteran kedua, dia berani melek 8 detik. Puteran ketiga 13 detik, dst menunjukkan peningkatan. Hingga puteran ke 10 dia berani melek lama banget. Sekitar 15 menit. Hoks.. 15 menit? 1 puteran aja ga nyampe 15 menit. Gue liat ke bawah. Baru nyadar, ternyata… Kincir Raksasa yang kita naekin macet. Setelah nunggu si petugas ngebenerin mesin beberapa menit, akhirnya mesin kembali nyala dan kincir pun bisa muter lagi. Alhamdulillah.. Tapi… belum selesei deg-degan kita, tiba-tiba mesin berhenti lagi. Si petugas kembali ngutek-ngutek mesin. Semenit… dua menit… 10 menit… 15 menit… Kok ga nyala-nyala yack? Smua mulai cemas. Semua sarana permainan yang ada di pasar malem udah pada berhenti. Pengunjung sudah habis, kecuali kamui yang sedang terjebak di kincir raksasa. Semua petugas pasar malem pada ngerumunin mesin kincir kami. Ada yang bawa obeng, ada yang bawa oli, ada juga yang bawa matras. What? Matras? Buat apa thu? Masa’ kita disuruh terjun? Mana gue berada di box paling atas lagi. Anak-anak lesu… entah merenungi nasib, entah menyesal, yang jelas, yang ada di hati gue saat ini adalah mohon ampun. Ya Allah… ampuni dosa hamba-hambaMu ini. Oh Leader… forgive us… Ibu kost… maapin juga, kita pergi ga bilang-bilang… sampai kapan kami terus menuggu seperti ini? Kalo sampe besok pagi ga bisa muter jua, berarti kita ga bisa turun, berarti besok ga jadi pulang. Alternatif terburuk adalah loncat dari box setinggi 3 meter ke matras tipis yang udah disiapin ma para kru. Iya kalo kita lompat dengan sukses. Kalo ga pas, trus kaki kita patah, kepala remuk bagai kerupuk, gimana dunk? HWAAAAA... Berbagai pikiran parno kita mulai menggerogoti otak. Entah berapa lama kami semedi di dalam box, tiba-tiba mesin mulai nyala. Grek… kincir mulai berputar kembali. ALHAMDULILLAH… kami semua spontan bersyukur. Setelah mendarat dengan sukses, gue liat jam udah nunjukin pukul 23.15 WIB. Masya allah... kita terkurung dikincir raksasa selama 2 jam lebih. Bener-bener kita mengukir Unforgettable moment

16.“Bubar” sebelum bubar
Moment yang paling kami tunggu-tunggu selama kursus di Daffodile pada bulan puasa adalah “Bubar” alias buka puasa bareng. Tapi karena program yang kita jalani super padat, ditambah kesibukan para siswa sendiri kerena mereka ambil program ga Cuma 1 tempat. Jadinya baru sempet ngadain bubar bareng pas sehari sebelom bubar (baca:hari terakhir di Pare). Dan hari itu bertepatan dengan hari ultah gue. ( Alhamdulillah gue berhasil merahasiakan ultah gue. Biar ga dikerjain ma mereka. Hehehe...).

Yups... itulah pengalaman-pengalaman yang gue dapet selama di Pare. Semoga di lain kesempatan, Allah masih memberi kesempatan menuntut ilmu disana lagi. Amin...

Rabu, 18 Maret 2009

Sêbúah Pèngäkùän Døsä pädä Usúsku

Ususku chäyank.. Maafkan daku karena akhir-akhir ini telah mendzalimimu. Ternyata opname slama 1 minggu di RS Siti Khodijah di penutup tahun lalu belum membuatku benar-benar 'jera'. Tapi sumpah, sus! Aku sayang banget ma kamu. Aku ga mau sampe kamu infeksi lagi.

Usúsku chayank..
Memang akhir-akhir ini aku sering melakukan pelanggaran-pelanggaran. Ternyata aku telah khilaf. Sedikit terlènä oleh nikmat kesehatan yang telah Alläh berikän pädäku. Akupun lùpä dèngan päntängän-päntängan däri Dr Noer, dokter spesialisku selama aku 'berlibur' di rumah sakit.

Ususkù chäyänk..
Ini diä pelanggaran-pelanggärànku yang bikin hari ini aku terkapar lèmah dikäsur karena kamu kumat lagi.

Pélänggärän pertämä terjadi minggu siang. Saat mbolang bareng ibuku. Setelah capek muter-muter Juanda, kami mampir ke bakso Soponyono. Awalnya si nyokap ga ngijinin. Tapi setelah melihat ratapan anaknya yang mupeng bgt karena uda berbulan-bulan puasa bakso dan aku janji "ga pedes-pedes", akhirnya nyokap ga tega juga dan mengijinkanku menyantap bakso. Asyek..di pertengahan menikmati bakso, muncullah ide bandelku. Lirik ke arah nyokap. Yes!! Beliau lagi asyik menikmati stiap suap makanan favoritenya. Pasti ga liat klo aq ngambil sedikit sambel di sebelahku. Dikit aja koq, cuman seujung sendok. Cuman biar baksonya ga hambar-hambar amat. Säät aku menyendok 'seuprit' sambel. Nyokap liat. Hwayyöö..ketauan!! "hehe.. (nyengir kuda) ini bu,aku cuma mo ngenalin sambel dikit aja ke usus,biar ususku ga kaget kalo ntar kepepet ga ada makanan yg tanpa sambel di acara prasmanan. Sakit kan ga boleh dimanjain. Ya kan bu..^_^" lh.. Anak ibu pinter ngeles.

Pelänggäran kedua.
Terjadi säät si Ina,adekku yang paling gak imoet dapet bejibun coklat dari Bagøes, yayanknya. Ina yang kebanjiran cokelat, aku yang ikut seneng menikmati makanan favoriteku itu. Sampe lupa deh kalo cokelat itu masuk dalam salah satu list pantangan.

Pelanggaran ke 3. Kemaren sore ikut-ikutan pesen mie ayamnya cak Krie di belakang kantor. Habisnya.. Awalnya sempet ragu seh, pas rekan kerja ngajakin makan mie ayam. Tapi entah dapet bisikan setan darimana. Akhirnya aku tergoda juga.

Kalo yang ke 4 ini, bukan pelanggaran tapi kecelakaan. Tadi malem pulang kerja rasanya haus bgt. Pengen yang seger2. Pengen beli buah. Nah,karena di sepanjang Waru byk org2 jual jeruk di pinggir jalan,mampirlah aku ke salah 1 penjual jeruk di pinggr jalan itu. Dari awal mo beli, kayaknya aku uda ada feeling ga meyakinkan. Mulai dari harga yang kelewat mahal, mo bayar ga ada kembalian, dll. Tapi entah kenapa aku tetep beristiqomah untuk membelinya. Sesampai dirumah, saat aku menikmati jeruk "Astagfirullah.. Ni jeruk asem bgt yack?!!" spontan aku menghentikan makan jeruk itu. Aku mencari-cari sesuatu yang bisa kumakan dan menghilangkan rasa asam dimulutku. Kubuka kulkas, ku temukan jelly. Tanpa ba..bi..bu.. Lagi langsung kusantap. Dan hasilnya.. Omaigat!! Perutku langsung sakit, terasa ditonjok-tonjok Mike Tyson, langsung ngacir ke toilet.. Lemezz. Hingga pagi ini hanya bisa merintih kesakitan dan nungging plus terkapar d tempat tidur. Menghubungi atasan di kantor, minta ijin masuk agak sorean karena masih sakit.
Maafkan aku bos, maafkan aku ibu, maafkan aku dokter,
maafkan aku rekan-rekan kantorku.. Semua jadi kacau gara-gara aku sakit. Dan ususku chayank.. Maafkän aku juga. Aq janji ga akan mendzalimimu lagi. Piss.. ^_^V

Teaching point in this case:
Terkadang Allah memberikan sakit kepada kita, agar kita dapat mensyukuri nikmat sehat yang telah Allah berikan pada kita. Dan manusia sering khilaf akan nikmat tersebut.

Sabtu, 28 Februari 2009

SÅÄT HÅTÌ KÉCÍL BÎÇÄRÄ


Suràbáyä, 12 Fèbruåri '08. Pukul 21.10 WIB puläng kerja, di atäs bis køta JMP-Bungurasih. Badan terasa pegal-pegal, otak penat. Di tengah hiruk pikuk para penumpang bis kota. Tibä-tibä seorang bapak separuh baya duduk dì sèbèlah saya. Si bäpäk b'tänya päda saya "Mbäk, menawi kulo mbayar ngangge arto 3000,purun mbøten nggih?(mbak,klo saya mbayar bis pake 3000 (red:kondekturnya) mau gak ya?" Sambil tersenyum saya jawab "mboten ngertos,pak! Ongkose Rp4000,00"

Dèngan wajah cèmbèrut, Sí bäpäk bercèrìtä pädä säyä bähwa beliau bäru dätäng dåri Jøgja, nåik kereta api sampai Wönøkrömø. Sèsampai di Surabaya, ternyata uängnya súdah häbìs. Díá tidäk pegang uäng samä sèkäli. Hänyä uang Rp.3000,00 di tängän,itupun ia däpätkan däri penjual tahu cämpur di tepi jalan. Dan sesampainya d Bungur nanti, dia masih harus nyambung angkot ke Krian,sedangkan saat ini ia sudah tidak punya uang sepeserpun. (sambil memperlihatkan isi dompet dan sakunya yang kosong).Begitulah cerita yg keluar dari mulutnya. Entah benär atau salah, hanya Tuhan yang tau.

Häti säya tersèntuh, mèráså kasihan pada si bäpäk. Tètåpi saya teringat pésan para keluarga dan orang-orang terdekat
* "Hati-hati sama kehidupan malem di Surabaya, Nid! Banyak perampøkan, penipuan, perkøsaan, dll"
* "Jängän mudah percaya sama orang yg bäru dikenal, Nid."
Dän masih banyak lagi 'wanti-wanti' yang mengatakan Waspadalah..waspadalah!!

Säyä mencoba berläku cuek atas cerita si Bapak itu. Saya melirik ke arahnya. Pandangannya kosong, bibir cemberut. Saya mencoba berfikir logis, Di antara bisikan-bisikan setan vs malaikat.
"Ati-ati Nid,kali aja thu orang ngibulin lo!"
"Kasihan Bapak itu. Dimana rasa perikemanusiaanmu, Tega melihat orang lain m'derita.Masa sih kamu tidak mau memberinya sepeserpun?"
"Yee.. Salah ndiri napa dah tau perjalanan jauh kok bawa duit pas-pasan?"
"Siapa tau bapak itu bäru dapet musibah. Inget Nid, gak selamänya kamu berada di atas. Suatu saat kamu juga butuh pertøløngan orang lain."
"Ntar klo lø kasih dia duit,ternyata dia penipu gimana?trus stelah lo kena,malem berikutnya dia ngincer lo mlulu gimana? Tidaaak!!"
"Serahkan smua pada Allah. Yang penting niatmu ikhlas. Masalah dia bohong/jujur. Biar Allah yang memberi ganjaran."

Saya merogoh tas. Ingin memberinya uang. Ternyata di tas hanya ada uang Rp7000,00 untuk nyambung angkot dr bungur-juanda.(sbnrnya didompet masih ada uang jaga2,tapi saya anggap tidak bs diganggu-gugat karena memang untuk keperluan sangat mendesak.Dan memang itu uang besar,tidak adä kembalian). Saya keluarkan Rp2000,00. Saya berikan pada si Bapak. "Maaf pak,hanya ini yang saya punya.sayapun masih butuh ongkos untuk pulang. Tapi saya ikhlas kok,pak!" Dengan cepat ia menerima pemberian saya. Aneh,ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali. Berterima kasihpun tidak. Atau mungkin.. Ia kecewa karena pemberian saya sangat sedikit. Apapun yang terjadi, Wallahu alam.. Saya serahkan semua pada Allah.

Minggu, 01 Februari 2009

TERIMA KASIH ATAS CINTAMU…

Ngalam, 14 Februari 2008

Kepada-Mu yang tlah meniupkan ruh pada jasadku...
Terima kasih telah memberikanku kehidupan,
sehingga kudapat menghirup udara segar dan memandang indahnya mentari.

Kepadamu yåñg tlah melahirkanku...
Terima kasih selalu membimbingku & menjadikan tempatku berteduh dengan cintamu,
Sehingga ku merasa nyaman disampingmu.

Kepadamu yang selalu menafkahi kami...
Terima kasih telah menanamkan nilai-nilai idealismemu,
Sehingga ku dapat menentukan jalan hidup dan tak tersesat.

Kepada kalian yang slalu mengiringi langkahku...
Terimakasih telah setia disaat suka dan dukaku, dan kuharap hanya maut yang dapat memisahkan kita.

Kepadamu yang telah mendidikku...
Terimakasih telah menanamkan nilai, moral dan ilmu kepadaku
Agar ku dapat menggapai dedikasiku, serta bermanfaat bagi lingkungan.

Kepadamu yang pernah mengisi hatiku...
Terima kasih telah singgah dihatiku walau hanya sesaat.
Semoga kita dapat memetik hikmah sebagai bekal di masa depan.

Kepadamu yang slalu memotivasiku...
Terimakasih telah menjadi sumber inspirasiku dalam segala hal.
Sehingga kudapat selalu tegar dan berdiri di atas kakiku sendiri.
Dan ku berharap semua ini tidak berhenti sampai disini.

Kepadamu yang kelak menjadi ”pemimpin”ku...
Terima kasih atas pilihan dan kepercayaanmu
Semoga Tuhan memberi petunjuk kepadaku dan mempertemukan hati kita,
sehingga dengan cinta kita, kita dapat lebih mendekati cinta-Nya.

Kepada Tuhanku, Rasulku, Bundaku, Ayahku, Sahabatku dan semuanya...
Terima kasih atas cintamu

UNFORGETTABLE MOMENT I’VE GOT IN PARE (part I)


Ngelanjutin cerita di beberapa postingan lalu yang ngebahas tentang Pare, disini gue pengen ceritain pengalaman-pengalaman yang gue alamin selama menuntut ilmu disana. Tapi b'buhung banyak bgt, dibagi 2 sesi yack. Let’s chek it out…


1.Welcome to English Area
Hari pertama di camp. Setelah menyelesaikan administrasi ma ibu kost, gue + 2 temen sefakultas, chek in di camp Able & Final course (whew.. gue sebut merk, ntar royaltinya langsung ke rekening ya boss!! hehe…) sebuah kursusan yang berada di jalan Anyelir. Gue pilih camp situ karena lokasinya lumayan strategis n terletak dipusat keramean. Mo beli makan dan kebutuhan sehari-hari disana lengkap. Tempat kursus gue juga ga jauh-jauh dari situ. A&F punya 3 camp, 1 camp putri yang diapit oleh 2 camp putra di depan n belakang. Ruang kelas untuk belajar ada di lantai 2, diatas rumah ibu kost. Di camp putri di pimpin oleh 2 orang leader, merekalah yang mendampingi bapak kost (yang sekaligus direktur utama A&F) dalam mengajar. Walopun usia mereka masih terbilang muda, tapi Kemampuan English mereka tidak di ragukan lagi. Dan mereka pulalah yang bakal menangkap basah anak-anak kalo ketauan berbicara dengan bahasa non English dilingkungan English area.

2.Let’s me introduce my self
Selain gue n 2 orang temen sefakultas, ada beberapa anak baru juga yang seperiode. Sebelum ajang pengenalan diri, ada beberapa anak yang always nanyain gue “Mbak orang Malaysia ya? Kok wajahnya kayak orang-orang melayu gitu sih?” dengan entengnya gue jawab “ Ini sih bukannya mlayu (jawa:lari) tapi mlaku (jawa:jalan). Mereka ngikik. Pas ajang perkenalan diri, gue dapet inspirasi dari pertanyaan-pertanyaan tadi
Gue : “Lets me introduce my self, my name is Zainida. You can call me Nida. I come from ‘Kuala Lumpur’
Anak-anak : “ Wow… Really?”
Gue : “Yup. Of course… ‘Kualanya Lumpur Lapindo alias Sidoarjo”
Anak-anak : GUBRAAAAAK

3.Nyewa sepeda butut
Berhubung gue ambil program ga cuma disatu tempat, untuk kelancaran mobilitas selama di Pare gue nyewa sepeda. Tapi apes. Pas gue mo nyewa sepeda, stock sepeda disitu cuma tinggal dikit karena banyak yang lagi disewa. Cari alternatif ke penyewaan lain juga sama aja kosong. Terpaksa gue nyewa sepeda yang agak-agak butut dengan ciri-ciri : sepeda berwarna merah, sedel dah sobek, pedal tinggal separoh, keranjang n stang udah pada goyang. Gue jadi inget sepeda gue dirumah yang lagi nganggur. Oh GOD... mulai hari ini gue benar-benar menjunjung tinggi motto gue Milikilah apa yang kamu cintai  cintailah apa yang kamu miliki.

4.KBU telpon
Duh... ni temen sekamar ada 5 orang kok miss Ring-ring semua yack? Tiap detik, menit, jam mesti telponan dengan suara yang super keras. Gue sampe susuah tidur walopun ni kuping dah disumpel MP3 player dengan lagu-lagu instrumentnya Kitaro biar tenang. Tapi herannya dikamar-kamar lain anak-anaknya ga gitu-gitu amat. Ternyata... kamar gue memang dijuluki kamar KBU.

5.“Who’s on inside? I’m next, okey..”
Kayaknya ni jadi Password gue saben subuh. Bayangin aja, di camp yang isinya sekitar 20an orang kudu ngantri toilet yang cuma ada 2 biji. Mana dijam-jam segitu toilet lagi banyak penggemar: buat take a ritual ablution (ambil air wudhu), buat take a bath (mandi), take a leak (pipis), take a damn(BAB) & take-take lainnya.

6.Ngobrol ma bule
Di camp lembaga tempat gue tinggal dan menuntut ilmu, ada seorang bule yang ngajar disana. Suatu hari dia nyapa gue (dengan bahasa Inggris tentunya). Awalnya gue jawab dengan nervous. Tapi setelah bisa ngimbangin, akhirnya kita asyik ngobrol. Tapi… makin lama kok pertanyaannya makin susah ya? Vocabnya makin beraneka ragam. Gue muter otak terus n ngejawab sebisanya. Pas ngerasa kepepet, gue ngeluarin jurus andalan “ I’m sorry sir, can u speak Indonesian? I dunno what d’u mean..” dia pun ngejawab “Sory, I can’t” duh… mana ni bule doyan banget ngobrol lagi. Bisa mati kutu gue didepan dia. Akhirnya, setelah mengeluarkan sejuta alasan, gue pun bisa terbebas dengan hanya 1 alasan “I have a study club now”. Fiuh… Selamet… selamet…
***
Suatu malam ketika gue lagi ngenet di sebelah camp, gue liat si bule lagi ngobrol sama temen sekelas gue dengan bahasa Inggris. Tapi lama-kelamaan, kok obrolannya jadi bahasa Indonesia yack? Gue tercengang. Untuk lebih memastikan, gue lepas earphone gue. Eh iya bener. Pantesan lancar tu anak ngobrol ma dia. Tau gitu… kemaren gue ga usah mati kutu didepan dia.

7.Enter Wind vs My body’s not Delicious
Suatu hari, jam 5 subuh. Disaat anak-anak camp lagi pada ‘sarapan Grammar’ sang leader menemukan gue sedang meringkuk di tempat tidur.
Leader : “c’mon… program…program..”
Gue : “sory… I’m absent today miss..”
Leader : (melotot) “ Why..?”
Gue : “ anu…anu…” (mikir.. cari vocab yang tepat) “ I’m enter wind, miss” (duh, apa ya bahasa Inggrisnya ……..?).
Leader : (melotot tambah lebar) “ what d’u mean, miss Nida?”
Gue : “ aduh.. ini lho.. My body’s not delicious. Eh salah, (emangnya makanan?)… my body’s not feeling well”.
Leader : O……. apa tadi? (manggut-manggut) You enter wind?
Gue : “ He eh.. he eh…(seneng, ternyata sang Leader ngerti juga ma bahasa planet gue & gue memberikan jawaban yang cukup cerdas. Yes..yes.. yes..)
Leader : ............
Gue : (heran, kok diem?)
Leader : “HWAKAKAKAKAK… enter wind or catch a cold? ”
Gue : (nyengir…) “hihihi…. o… bahasa Inggrisnya masuk angin tu catch a cold toh? Kirain enter wind. Hehe… tengkyu miss… piss… ­ ^_^V ”

Fiuh… untung aja gue ga dihukum ma leader gue gara-gara vocab acakadul. Gue kan belom ada seminggu di camp,jadi masih ada dispensasi. Alhamdulillah...
Selain vocab yang ancur-ancuran, gue n temen-temen sering banget ngacak-ngacak bahasa Inggris. Ex: Butterfly => (Butter=mentega, Fly=terbang) butterfly=mentega terbang. Billyard => (Bill=tagihan, Yard=halaman) Billyard=tagihan halaman. Yach... itulah ulah para preman di camp putri. Tapi sekarang kita dah insaf. Tobat... tobat...

8.Gila-gilaan ikut 17an
Saking terkesannya ma moment ini, gue sampe ga tau mo nulis apa. Yang jelas gue salut banget ma para tim kreatif A&F yang berhasil membuat kami seharian jadi pada merefresh otak sambil kotor-kotoran n gila-gilaan. Sumpah!! Outbond + perlombaaannya keren-keren n kreatif banget. Mulai dari jejak petualang di Pagi hari. Masing-masing kelompok terdiri dari 6-7 orang yang satu sama lain diiket pake tali rafia (jadi kayak kereta-keretaan gitu) yang harus melalui pos-pos dengan tantangan yang berbeda-beda. Teaching point yang kita dapet: rasa kekeluargaan n kekompakan antar sesama warga camp cowok n cewek semakin erat, ngilangin stress dan kepenatan, yang terpenting adalah meningkatkan rasa nasionalisme (ternyata anak muda jaman sekarang masih banyak yang ga hafal lambang-lambang pancasila lho..).

9.Pare – Malang – Surabaya - Sidoarjo
Layaknya seorang Fresh graduate yang lagi jadi Job seeker, pastinya lagi getol-getolnya nyebar lamaran. Dan ternyata, hampir semua lamaran yang gue masukin selalu dapet panggilan test dan interview. Alhasil, seringkali gue harus bolak-balik Pare – Malang – Surabaya – Sidoarjo untuk memenuhi panggilan itu. Ditengah-tengah padatnya program kursus gue tentunya.

10.Ketinggalan bis, terpaksa Muter Dari Malang.
Suatu sore, gue kaget banget pas dapet panggilan interview sebuah Perusahaan di Surabaya. Bayangkan..gue masih ada program sampe jam 9 malem. Tapi besok pagi sebelum jam 7 gue harus udah stand by di kantor perusahaan itu untuk interview. Alhamdulillah, gue dapet ijin buat ga ikut program malam. Dengan kecepatan kilat, habis sholat magrib tanpa dinner gue langsung tancap ke pertigaan BEC buat nyari bis. Sejam... dua jam... kok ga dateng-dateng yack? ” Bis ke jurusan Surabaya terakhir jam 5 sore mbak...” kata abang becak yang biasa mangkal disana. Gue bete.. tapi masih berharap ada keajaiban terjadi. Sapa tau aja ada sopir bis Pare - Surabaya yang mendadak ngidam narik penumpang di malam hari (alasannya ga logis bgt yack?). Ya Allah... berilah kekuatan pada hambamu ini. Pikiran gue mulai campur aduk, melayang-layang, perasaan gue mulai ga karuan. Dicampur dengan kepala yang lagi pusing, perut yang lagi dilepen (baca:hari pertama dapet, nih) perut yang keroncongan lengkaplah penderitaan gue. Stress tingkat tinggi. Biasanya obat penawarnya adalah : ngobrol. Gue celingak-celinguk ke sekeliling gue. Abang becak yang barusan di depan gue dah ga ada, masa gue harus ngobrol ma preman-preman yang lagi kongkow di warung pojok yang dari tadi ngeliatin gue? Nggak ah.. serem! Ngobrol ma sapa ya di malam gelap-gulita begini.. sunyi-senyap... (daerah ini memang agak jauh dari pemuliman anak-anak kos, sepi puol...) Tiba-tiba... eh tunggu-tunggu... tu ada cowo’ yang lagi berdiri ga jauh dari tempat gue nunggu bis. Pake baju item-item. Tapi orang beneran bukan yack? Setelah gue pandangin dari ujung rambut ampe ujung sepatu n yakin bahwa sepatunya nginjek tanah, akhirnya gue memberanikan diri untuk menyapanya. Ternyata.. mas-mas yang ternyata bernama Edi itu juga lagi nunggu bis, tapi ke Malang. ” Kalo bis ke Surabaya jam segini emang dah habis mbak. Klo mau mbak naek bis malang dulu, trus ntar oper ke bis Surabaya” Malang? Ya Allah... kenapa gue ga inget dari tadi? Gue kan kuliah di malang! Masih punya kosan di malang! Punya temen seabrek di Malang! Jadi kenapa ga kepikiran untuk singgah ke Malang dari tadi? (namanya juga orang lagi stress). Singkat kata, gue naik bis Malang bareng mas Edi. Begitu bis dateng, gue langsung naek ke bis lewat pintu depan, mas Edi lewat pintu belakang. Kita misah. Tapi gak lama kemudian mas Edi pindah duduk ke depan n gak tau kenapa si kondektur bis nyuruh gue pindah duduk ke depan juga. Pas gue nyadar ternyata mas-mas tadi toh yang duduk sebelah gue. Kitapun asyik ngobrol sampe Malang. Ternyata dia penduduk asli pare yang lagi mo ke Batu, dulu kuliah di malang juga. (hallo mas Edi... keep contact yach ^_^).
Sampe di Malang jam 9 malem, ternyata penderitaan gue belum berakhir, sodara-sodara... Nyari temen buat nganterin ke terminal Arjosari susahnya minta ampun. Waktu itu masih liburan, temen-temen gue banyak yang mudik. Mo nginep di kosan, gue ga bawa kuncinya. Untuk sedikit mereduksi stress gue, gue nyempetin makan malem bareng si Maniez, sobat gue. Tiba-tiba dia bilang ” Chantique, kenapa ga gkita coba ke base camp anak2 aja (base camp KOPMA) tapi gue liat mereka ga mudik. Alhamdulillah.. akhirnya gue dianterin Hafid, adek KOPMA gue. Sampe di termilnal Bungurasih jam 00.00 tet. Suasana terminal tetep masih rame. Tapi jarang ada cewek. Apa lagi cewek semanis gue (teteeep narsiiis). Yang ada Cuma calo-calo yang makin mengganas n preman-preman pada minum minuman keras dipojokan. Jadi merinding. Alhamdulillah di jemput nyokap. Thanks Mom... You’re relly-reallly my WONDER MOM.

GURU-GURU CILIK

STOP! PRIIIIIIIIIITTTT…………..!!
Suatu hari, ditengah teriknya matahari terdengarlah suara-suara heboh dari sebuah perumahan.
Aya : “Bukan… bukan gitu caranya mbak. Klo mbak Aminah naek ke sedel dulu ntar jatoh. Mending dikayuh aja dulu. Baru klo dah jalan baru duduk.” (dengan gaya bak (pengajar kursus mobil) pengajar sepeda ontel)
Aminah : “ Tapi mbak takut nih klo belajar sepedanya langsung yang gede. Ntar aq jatoh, mas…”
Aya : “ Gak.. Gak.. mbak.. aku aja lho bisa mbak... ( Ngelus-ngelus punggung Aminah, berusaha meyakinkan Aminah) Dulu pas aku diajarin ma mbak Nida juga kaya gitu kok. Iya kan mbak?” Ngelirik ke arah gue, minta dukungan. Gue manggut-manggut).
Nuha : ” Iya mbak, mbak Aminah naek sepeda yang gede itu aja. Jangan pake’ sepedaku. Ntar bannya bocor lhoo... Yok kita sepedaan bareng- bareng”

Begitulah aktivitas adek-adek gue yang lagi ”ngelesin privat” cara mengendarai sepeda ke Orang yang kerja dirumah gue. Setiap Aminah belajar sepeda, mereka ga bosen-bosennya ngasih pengarahan ke Aminah. Sampe suaranya serak. Sampe pada keringetan segede-gede jagung. Bahkan si Aya ga sungkan-sungkan mempraktekan mengendarai sepeda gue. Walopun lebih gede sepedanya daripada orangnya. Hihihi...

Aya : ” Mbak Ami... kalo mo pinter naek sepeda, jangan takut. Trus jangan pake sepeda kecil lho... ntar malah jatuh soale gak imbang. Pake sepeda gede aja gapapa. Jangan takut jatoh. Pede aja lagi. Nih kayak aku. Liatin ya...”





Wakakakak... lucu banget aksinya. Untung sempet jadi paparazi buat ngejepret fotonya.

Gak lama kemudian....
Guk.. guk... guk.... ” HWAAAAAAA......... mbak Nidaaaaaaaa..... toloooooooooooong. Ternyata sepeda Aya (plus Ayanya juga) dikejar Anjing gara–gara dia hampir nginjek buntut anjing. Ngeliat kejadian itu, spontan gue mengejar anjing itu. Maksudnya pengen nyelamatin si Aya plus ngasih pelajaran ke anjing itu. ”ngapain ngejar-ngejar adek gue?” Jadilah pemandangan yang aneh. Kejar-kejaran antara Aya + sepeda – anjing – gue. Sayangnya ga ada yang mengabadikan moment itu. Si Nuha malah poto-poto sendiri dengan narsisnya.




Balik ke masalah Aminah. Orang yang kerja dirumah gue ini lagi getol-getolnya belajar sepeda. Nyokap gue udah ngijinin dia, kitapun fine-fine aja, bahkan ngedukung asal ga ninggalin gawean dia aja. Setiap ada kesempatan, dia mulai belajar. Tapi sayangnya, sepeda yang dia pake tu sepedanya Nuha (baca: sepeda kecil). Walhasil, setiap mo sepedaan, si Nuha kudu ngepompa sepedanya dulu yang kempes lantaran habis di pake Aminah (secara, Aminah kan bukan Anak kecil lagi. Harusnya pake sepeda gede, bukan sepeda kecil). Maka dengan semangat ’45, Nuha n Aya ngajarin aminah biar berani naek sepeda gede. Tapi walopun berapa kali si Aya, Nuha, gue bahkan nyokap ngebilangin dia untuk naek sepeda gede, tetep aja dia pake’ sepeda kecil. Awalnya masih bisa kita tolerir, cos masih belajar. Tapi lama kelamaan, kasian juga si nuha kalo tiap hari kudu mompain sepedanya setiap mo pergi ngaji. Walhasil dia suka telat gara-gara waktunya banyak kemakan untuk ngurusin sepeda. Hingga pada suatu hari...

GUBRAKK...
Nyokap : (dengan suara berbisik sambil ngintip dari balik jendela) ” Mbak Nida... sini.. sini.. tu liat! Mbak Ami jatoh. Dia pake sepedanya Nuha lagi thu.”
Gue : ”ho-oh...ho-oh.. aku juga juga liat niy” (dengan suara berbisik juga, ngintip dari balik jendela juga.
Nyokap& Gue : ( memperhatikan apa yang dilakukan Aminah dari balik jendela)
Aminah : (garuk-garuk kepala, menggigit bibir bawah, masuk ke pekarangan rumah, memarkir sepeda nuha, mengambil sepeda gue (baca:sepeda gede))

Wah... akhirnya dia mau juga nyoba sepeda gede setelah jatoh melulu gara-gara naek sepeda kecil. Mungkin setelah dia pikir-pikir, Ternyata bener juga apa kata Aya ”Jangan pake sepeda kecil lho... ntar malah jatuh soale gak imbang”. Walopun cuma seorang anak kecil, tapi bener juga thu apa yang dia bilang. Diapun bisa bilang begitu karena pengalaman.


Teaching Point of This case
” Jangan lihat siapa yang berbicara, tapi dengarlah apa yang ia katakan.”